Mandat Sang MAHA Untuk Manusia
Sudahkah manusia tumbuh dan berkembang
seperti harapan Tuhan? Sebenarnya apa yang diharapkan Tuhan kepada manusia?
Atau Tuhankah yang salah berharap? Cukup membakar emosi bukan, mari kita kupas
perlahan.
Aristoteles mendeskripsikan manusia
sebagai hewan berakal sehat yang mengeluarkan pendapatnya dan berbicara
berdasarkan akal pikiran. Setipis pemahaman saya dari yang diutarakan Aristo
mungkin lebih kepada perbuatan manusia, termasuk di dalamnya perbuatan hina,
karakteristiknya tetap dihargai sebagai manusia, bukan di identikkan dengan
hewan, walaupun seperti (perbuatan) hewan dari segi sifatnya, tetapi
substansinya tetap berbeda.
Manusia dan hewan sama-sama memiliki otak,
namun otak hewan tidak bisa membuat persepsi. Hanya otak manusia manusia lah
yang mampu membuat persepsi yang kemudian diuji coba untuk membuat suatu
hipotesa. Kelak ini merupakan embrio dari ilmu pengetahuan yang digunakan
manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
D.C. Mulder Profesor asal Belanda
mendefinisikan Manusia adalah makhluk yang berakal, akal yang menjadi pembeda
pokok antara manusia dengan binatang, akal pula yang menjadi dasar dari segala
kebudayaan. Abbas Mahmud Al-Aqqad penulis asal Mesir, Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat
ketuhanan. Sebenarnya masih banyak pendapat para ahli, namun akan sangat
sia-sia tulisan ini jika pembacanya merupakan agamawan lurus yang tidak mau
membuka pikirannya.
Adanya manusia di semesta ini tentunya
memiliki tujuan, tidak mungkin diciptakannya sesuatu tersebut tidak ada tujuan.
Tentunya kita semua mengatahui bukan manusia cuma manusia yang diciptakan, ada
hewan, tumbuhan dan ada lagi makhluk tak kasat mata. Masing-masing memiliki tujuan
dan perannya sendiri dan peran manusia sebagai makhluk yang paling sempurna
memiliki tugas dan tujuan sendiri.
Dalam berbagai cerita sejarah maupun ayat
dalam kitab-kitab, manusia ada di bumi memiliki tugas sebagai pemimpin ada juga
mengatakan manusia di bumi karena mendapat hukuman atas perbuatannya memakan
buah terlarang, adanya ia di dunia sebagai penebusan dosa. Begitu banyak konon
katanya, hingga kita bingung mana yang benar adanya.
Bagi saya sendiri, manusia itu harus
bermanfaat bagi manusia lainnya, disamping kita mahkluk yang sosial. Manusia
itu mahkluk yang sering kena sial, jadi adanya hidup kita yang bermanfaat
kepada manusia lain, diharapkan akan membalas jasa kita. Ya perlu diperhatikan
juga jangan terlalu mengharap balas jasa, tidak semua manusia mampu berada
dalam level kepekaan yang sama.
Namun, menarik jika kita mencoba menyelami
salah satu tujuan manusia itu sebagai pemimpin. Bukan berarti saya sebagai
penulis berubah pikiran atas klaim sebelumnya. Ini karena saya mendapat benang
merah di sini dari diciptakan dan tujuan manusia.
Akal budi manusia menurut saya adalah
benang merah yang menyebutkan manusia adalah pemimpin di bumi. mengapa
demikian? Sedangkal pemahaman saya kunci dari kesuksesan pemimpin adalah
digunakan nya akal. Apabila seorang pemimpin tidak mempunyai akal, ia sama
dengan seekor hewan berotak namun nir-akal.
Dalam islam manusia bertugas di bumi
menjadi seorang khalifah atau pemimpin. Protestan manusia di bumi
adalah untuk berkuasa atas segala kehidupan di bumi. Hindu juga menyebutkan,
tugas manusia adalah menjalankan Dharma yakni menjalankan etika dan
ajaran-ajarannya, jika manusia melupakan maka keseimbangan dunia akan
terganggu. Manusia memiliki tanggungjawab untuk menjaga keseimbangan.
Dari pandangan tersebut jika ditarik ada
satu tujuan yang sama yakni pemimpin. Seorang pemimpin yang berakal, bisa
menjalankan tugas dan mampu berlaku seimbang. Namun, sudahkah manusia saat ini
menjalankan pedoman-pedoman tersebut sebagai seorang pemimpin? Sudah
menjalankan namun untuk formalitas belaka .. ahh bullsh*t
Pemimpin hari ini banyak yang lupa dengan
jati dirinya. Malah cenderung memilih jati diri hewan, rakus, egois, kanibal
dst. Apa yang ada dibenakmu wahai pemimpin? Tuli dan membuta menjadi kelakuanmu
ketika kau duduk diatas singgasana mu. Awal kampanye meronta-ronta cari suara,
sudah menang lupa tanggung jawab hobi olah dana.
Memang secara fisik manusia mungkin lebih
lemah daripada hewan. Hewan dilengkapi dengan peralatan untuk mempertahankan
dirinya, seperti ayam jago dengan tajinya, harimau dengan kuku tajam dan
taringnya, ular dengan bisanya, gajah dengan fisiknya yang besar dan kuat.
Namun dengan akalnya, manusia dapat membuat peralatan untuk mempertahankan diri
dan kehidupannya.
Bagaimanapun lemahnya manusia, dengan akal
manusia masih bisa menguasai mereka. Maka akan sangat disayangkan jika manusia
yang istimewa berakal budi memiliki sifat dan perilaku yang seperti hewan.
Hendaknya manusia tetap selalu membumi jangan lekas puas apa lagi jumawa dengan
hasil yang didapat. Tetap rendah dan rendah emosi menjadi pedoman
mendasar menjadi seorang manusia.
Muhammad Faried
Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22
Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

0 komentar:
Post a Comment