BAGIAN 1: SIAPA ITU MANUSIA?


Mandat Sang MAHA Untuk Manusia

Sudahkah manusia tumbuh dan berkembang seperti harapan Tuhan? Sebenarnya apa yang diharapkan Tuhan kepada manusia? Atau Tuhankah yang salah berharap? Cukup membakar emosi bukan, mari kita kupas perlahan.

Aristoteles mendeskripsikan manusia sebagai hewan berakal sehat yang mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal pikiran. Setipis pemahaman saya dari yang diutarakan Aristo mungkin lebih kepada perbuatan manusia, termasuk di dalamnya perbuatan hina, karakteristiknya tetap dihargai sebagai manusia, bukan di identikkan dengan hewan, walaupun seperti (perbuatan) hewan dari segi sifatnya, tetapi substansinya tetap berbeda.

Manusia dan hewan sama-sama memiliki otak, namun otak hewan tidak bisa membuat persepsi. Hanya otak manusia manusia lah yang mampu membuat persepsi yang kemudian diuji coba untuk membuat suatu hipotesa. Kelak ini merupakan embrio dari ilmu pengetahuan yang digunakan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

D.C. Mulder Profesor asal Belanda mendefinisikan Manusia adalah makhluk yang berakal, akal yang menjadi pembeda pokok antara manusia dengan binatang, akal pula yang menjadi dasar dari segala kebudayaan. Abbas Mahmud Al-Aqqad penulis asal Mesir, Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan. Sebenarnya masih banyak pendapat para ahli, namun akan sangat sia-sia tulisan ini jika pembacanya merupakan agamawan lurus yang tidak mau membuka pikirannya.

Adanya manusia di semesta ini tentunya memiliki tujuan, tidak mungkin diciptakannya sesuatu tersebut tidak ada tujuan. Tentunya kita semua mengatahui bukan manusia cuma manusia yang diciptakan, ada hewan, tumbuhan dan ada lagi makhluk tak kasat mata. Masing-masing memiliki tujuan dan perannya sendiri dan peran manusia sebagai makhluk yang paling sempurna memiliki tugas dan tujuan sendiri.

Dalam berbagai cerita sejarah maupun ayat dalam kitab-kitab, manusia ada di bumi memiliki tugas sebagai pemimpin ada juga mengatakan manusia di bumi karena mendapat hukuman atas perbuatannya memakan buah terlarang, adanya ia di dunia sebagai penebusan dosa. Begitu banyak konon katanya, hingga kita bingung mana yang benar adanya.

Bagi saya sendiri, manusia itu harus bermanfaat bagi manusia lainnya, disamping kita mahkluk yang sosial. Manusia itu mahkluk yang sering kena sial, jadi adanya hidup kita yang bermanfaat kepada manusia lain, diharapkan akan membalas jasa kita. Ya perlu diperhatikan juga jangan terlalu mengharap balas jasa, tidak semua manusia mampu berada dalam level kepekaan yang sama.

Namun, menarik jika kita mencoba menyelami salah satu tujuan manusia itu sebagai pemimpin. Bukan berarti saya sebagai penulis berubah pikiran atas klaim sebelumnya. Ini karena saya mendapat benang merah di sini dari diciptakan dan tujuan manusia.

Akal budi manusia menurut saya adalah benang merah yang menyebutkan manusia adalah pemimpin di bumi. mengapa demikian? Sedangkal pemahaman saya kunci dari kesuksesan pemimpin adalah digunakan nya akal. Apabila seorang pemimpin tidak mempunyai akal, ia sama dengan seekor hewan berotak namun nir-akal.

Dalam islam manusia bertugas di bumi menjadi seorang khalifah atau pemimpin. Protestan   manusia di bumi adalah untuk berkuasa atas segala kehidupan di bumi. Hindu juga menyebutkan, tugas manusia adalah menjalankan Dharma yakni menjalankan etika dan ajaran-ajarannya, jika manusia melupakan maka keseimbangan dunia akan terganggu. Manusia memiliki tanggungjawab untuk menjaga keseimbangan.

Dari pandangan tersebut jika ditarik ada satu tujuan yang sama yakni pemimpin. Seorang pemimpin yang berakal, bisa menjalankan tugas dan mampu berlaku seimbang. Namun, sudahkah manusia saat ini menjalankan pedoman-pedoman tersebut sebagai seorang pemimpin? Sudah menjalankan namun untuk formalitas belaka .. ahh bullsh*t

Pemimpin hari ini banyak yang lupa dengan jati dirinya. Malah cenderung memilih jati diri hewan, rakus, egois, kanibal dst. Apa yang ada dibenakmu wahai pemimpin? Tuli dan membuta menjadi kelakuanmu ketika kau duduk diatas singgasana mu. Awal kampanye meronta-ronta cari suara, sudah menang lupa tanggung jawab hobi olah dana.

Memang secara fisik manusia mungkin lebih lemah daripada hewan. Hewan dilengkapi dengan peralatan untuk mempertahankan dirinya, seperti ayam jago dengan tajinya, harimau dengan kuku tajam dan taringnya, ular dengan bisanya, gajah dengan fisiknya yang besar dan kuat. Namun dengan akalnya, manusia dapat membuat peralatan untuk mempertahankan diri dan kehidupannya. 

Bagaimanapun lemahnya manusia, dengan akal manusia masih bisa menguasai mereka. Maka akan sangat disayangkan jika manusia yang istimewa berakal budi memiliki sifat dan perilaku yang seperti hewan. Hendaknya manusia tetap selalu membumi jangan lekas puas apa lagi jumawa dengan hasil yang didapat. Tetap rendah  dan rendah emosi menjadi pedoman mendasar menjadi seorang manusia.

 

Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana


0 komentar:

Post a Comment