Orang berkata aku manusia merdeka

Ketika aku bebas melakukan semuanya

Ketika aku punya kuasa dan berdaya

Tafsir orang sungguh berbeda

Aku ini tidak merdeka

Tatkala para tertua memaksa kehendaknya

Tatkala mereka bersuara “pilihlah dia dinda ikuti perintah kanda”

Tatkala semua meminta dengan penuh intimidasi disetiap narasi komunikasi

Aku ini tidak merdeka

Aku terluka

Tubuhku diam serasa ditikam

Mulutku bungkam mataku terpejam

Telingaku sakit hatiku menjerit

Naluri menolak egoku memberontak

Aku ini tidak merdeka

Aku terpenjara di istana kekuasaan

Terperosok dalam jurang kepentingan

Aku ini tak merdeka

Sampai akhirnya aku tak bernyawa


Rozita Syazwani


 



Pada tanggal 7 November 2021 DEMA FUAD kembali mengadakan acara Dialog Lintas Iman(DLI). Acara ini rutin digelar setiap periode kepengurusan, dengan mengusung tema "Agama, Konflik & Integrasi Sosial" acara tersebut sukses dilaksanakan. Turut juga mengundang seluruh HMJ se-FUAD, LSO serta DEMA se-UIN SATU bertempat di Aula Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung.

FUAD sebagai fakultas kemanusiaan selalu peka diri terhadap berbagai kejadian yang terjadi di masyarakat. Apalagi jika itu berkaitan dengan agama, untuk itu tema yang diangkat kali ini adalah agama, konflik dan integrasi sosial. Setelah usainya acara ini diharapkan teman-teman FUAD selalu menanamkan sifat pluralis terhadap saudara yang beda agama.

DLI tahun kali ini mengundang 4 pemateri, Pak Da'i Robbi (Yayasan Aswaja Tulungagung), Pak Rudy Wijaya & Didiek Firmanto (Katolik Tulungagung), Pak Wawan Susetya (Budayawan Tulungagung)  dan di moderatori oleh mbak Fitria Rizka Nabelia (Peneliti IJIR). acara tersebut antusias di ikuti oleh peserta offline dan online.

Para pemateri juga mengharapkan acara ini rutin digelar, agar tetap menyambungkan tali persaudaraan antar agama, khususnya di Tulungagung. Menurut mereka konflik agama itu sering terjadi akibat kurangnya pemahaman dasar tentang kerukunan umat beragama yang kemudian memercikan api konflik ditengah masyarakat. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena Indonesia merupakan negara yang beragam agamanya.

Berlanjut pada acara selanjutnya MILAD FUAD berlangsung dengan khidmat meskipun hujan deras mengguyur lokasi acara. Mengundang juga narasumber Mas Yahya selaku Mantan Ketua DEMA FUAD 2018, Mas Tamba Ketua DEMA FUAD 2019, Mbak Mita Ketua DEMA FUAD 2020 dan Mas Rafhi ketua DEMA saat ini.

Para narasumber selalu mewanti-wanti kepada warga FUAD perihal pentingnya Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Karena itu lah budaya asli dari warga FUAD, ciri khas ini hendaklah di jaga keorisinilanya serta diwariskan kepada setiap generasi baru di FUAD. Bisa dibilang itu lah yang membuat FUAD menjadi "Jantung dari UIN SATU" kata pak Dekan.

Berlanjut pada acara selanjutnya yakni prosesi potong tumpeng sebagai acara puncak dari MILAD FUAD. Harapannya FUAD yang kini semakin besar SDM harus juga semakin meninggi keintelektualanya, FUAD harus fleksibel dalam mengawal perkembangan zaman. Walau pun budaya celana sobek dan rambut gondrong adalah budaya lama yang masih dilanjutkan oleh generasi FUAD jaman now, harus selalu dibarengi juga dengan solusi wacana segar dan aktif dalam mengawal kemanusiaan yang terjadi.

Jaringan Mahasiswa FUAD!

JAMFUD!!   

                                          

Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 2021

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

Akhirnya kita sampai pada penghujung seri trilogy pembahasan  tentang "Siapa itu Manusia?". Sebelum ini ada dua tulisan berjudul "Mandat Sang Maha Untuk Manusia", "Faber Mundi: Sang Pembangun" dan yang terakhir "Homo Technologicus: Sang Penghancur". Dari saya, ada kurang lebihnya mohon maaf sebesar-besarnya.


 


Homo Technologicus: Sang Penghancur

Suatu peradaban besar memang tidak bisa dibunuh, mereka lah yang mencabut nyawanya sendiri. Mungkin itu kalimat pembuka yang ngeri-ngeri sedap, namun bagian ini kita sampai pada pembahasan yang ngeri-ngeri sedang terjadi. Modernisme lahir dengan mengusung seabrek janji-janji kemanusiaannya. Sudah lah terpenuhi? Atau malah menjadi jebakan masa depan bagi kita sendiri?

Peradaban modern dimulai dari geliat renaissance yang kemudian mengkoar-koarkan janji-janji kemanusiaannya, peradaban baru yang mengusung misi humanisasi ini membangun peradaban dengan kecepatan tinggi. Karya besar gerakan humanisme ini dapat kita saksikan pada peradaban modern yang kita saksikan di era saat ini.

Namun, dalam perjalanannya yang panjang, Humanisme Antroposentris ini ternyata tidak benar-benar mampu mewujudkan janji-janji manisnya. Manusia berada dalam ancaman serius berupa bencana alam dan perbudakan manusia oleh manusia lain dan perbudakan manusia oleh teknologi yang ia ciptakan sendiri.

Pada abad Pertengahan, manusia terpenjara dalam kekuasaan Gereja yang absolut. Manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Kemudian muncul Renaissance yang berusaha menjungkirbalikkan keadaan. Kedaulatan manusia yang telah lama terenggut darinya dikembalikan pada manusia. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai humanisme antroposentris, humanisme yang memandang manusia sebagai pusat kebenaran dan kesalahan.

Mungkinkah semua ini berawal perlawanan dari Martin Luther? Mungkin iya. Humanisme barat lahir akibat kekuasaan gereja yang otoritatif dan dogmatis. Bagi mereka tuhan Itu merupakan sosok pembelenggu manusia, manusia menjadi terkungkung dalam penjara agama yang mengatur segala tingkah laku manusia. Renaissance lahir dan berusaha merebut kembali kedaulatan manusia yang selama berabad-abad direnggut dari gereja.

Renaissance adalah kudeta atas kekuasaan Gereja. Melalui antroposentrisme atau humanisme antroposentris, peradaban Barat mengalami revolusi. Pandangan antroposentris beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan, tapi pada manusia. Manusia bukan alat bagi tuhan, manusia individu dengan segala individualnya. Apakah sebenarnya senjata manusia antroposentris? Rasio. Rasio memungkinkan manusia menjadi penguasa. Ketika manusia berpikir maka pada saat itu dia menjadi subyek dan segala yang dipikirkan menjadi objeknya. Manusia yang berpikir adalah subyek. Subyek aktif terhadap objek pasif. Subyek menguasai, objek dikuasai. Itulah hukum subyek-objek.

“Knowledge is power - Francis Bacon" Itu sebabnya siapa yang  memilki ilmu pengetahuan ia memiliki kekuatan dan kekuasaan. Karena jalinan yang erat antara ilmu dan kakuasaan inilah maka ilmu tidak pernah dapat melepaskan diri dari kepentingan. Zaman peradaban modern berhasil menciptakan mesin-mesin perang terhadap alam berupa teknologi canggih untuk menaklukkan dan mengeksploitasi alam tanpa batas, juga mesin-mesin perang terhadap manusia berupa senjata-senjata canggih supermodern, bom, bahkan juga senjata pemusnah massal. suatu kehancuran manusia dan kemanusiaan, yang terjadi setelah manusia secara gemilang berhasil “membunuh” Tuhan. Kata Francis Bacon, “Ilmu meninggalkan pencarian kebenaran dan beralih untuk mencari kekuatan”.

Alfin Toffler di dalam bukunya The Third Wave (William Morrow & Company New York, 1980) ada tiga gelombang peradaban manusia, yaitu gelombang pertama, yang juga disebut gelombang pembaharuan, manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Dengan itu, manusia yang semula hidup berpindah-pindah untuk mengumpulkan hasil hutan hasil hutan menjadi suka tinggal menetap di suatu tempat yang lalu disebut desa. Ciri gelombang ini adalah manusia menggunakan energi yang sudah disediakan alam, seperti otot binatang, matahari, angin dan air.

Gelombang kedua, yakni zaman Revolusi Industri yang ditandai beralihnya manausia ke energi tak terbarukan, seperti minyak, batu bara dan gas. Selain itu, dalam masa ini telah ditemukan mesin, diawali dengan mesin uap, yang tidak saja dapat menggantikan otot manusia, tetapi juga dapat dipadukan menjadi pabrik yang lalu menghasilkan barang produksi dan konsumen.

Gelombang ketiga, yakni zaman informasi yang ditandai dengan suatu peradaban yang didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan juga pengolahan data, penerbangan dan aplikasi angkasa luar, energi alternatif dan energi terbarukan serta rekayasa genetik dan bioteknologi, dengan komputer dan mikroelektronika sebagai dasar teknologi intinya.

Berdasarkan ketiga kategori tersebut dapat disimpulkan bahwa modernnya suatu peradaban manusia berkorelasi dengan teknologinya. Kemajuan peradaban dalam gelombang ketiga ini terlihat dengan hadirnya internet (interconnected-networking) sebagai bagian revolusi teknologi manusia di abad ke 21 ini, yang terbentuk konvergensi teknologi komputer dengan telekomunikasi, telah berhasil melahirkan teknologi baru yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Perkembangan dunia teknologi yang demikian mengagumkan telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Ditemukannya formula-formula baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Di Jepang beberapa individu lebih memilih produk teknologi yang ganjil seperti robot seks untuk dijadikan pacar daripada manusia bernyawa bernama wanita. Jika sebagian dari kita menganggap itu hal gila dan amoral, saya sarankan Anda perlu menunaikan hak demokrasi Anda untuk protes di depan kantor pemda Tokyo di Jepang.

Semakin kesini perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi  modern tidak membuat manusia memahami dirinya, bahkan semakin jauh dari dirinya sendiri. Kata Alexis Carrel “Sejauh manusia tenggelam dalam dunia luar dan telah mencapai kemajuan di sana, sejauh itu pula ia terasing dari dirinya sendiri dan lupa pada hakikatnya sendiri”. Itulah ironi besar manusia modern. Ia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berhasil membangun dan memoles makhluk manusia, tapi kurang tahu apa hakikat yang ia bangun dan poles itu. Yang terjadi selanjutnya adalah perbudakan manusia oleh apa yang ia ciptakan sendiri. Ilmu pengetahuan dibebaskan dari sikap takluk pada agama hanya untuk menjadi tunduk pada kekuasaan.

Teknologi yang seharusnya menjadi alat kemanusiaan untuk melepaskan diri dari perbudakan kerja, justru berubah menjadi suatu mekanisme yang memperbudak manusia sendiri. Dan kapitalisme, bayi raksasa yang terlahir dari peradaban ini yang kini telah menjadi kakek tua, adalah tukang sihir baru yang menyihir kemanusiaan hingga masuk dalam penjara baru roda-roda raksasa tak berbelas kasihan dari mekanisme dan tekno-birokrasi. Dalam sistem kapitalis, manusia hanyalah binatang ekonomi yang tugasnya hanyalah merumput dalam surga dunia ini.

Manusia memang tengah berada dalam ancaman yang sangat mengerikan, bencana kemanusiaan dan ancaman punahnya manusia itu sendiri. Tapi, satu hal yang membanggakan dari manusia adalah kemampuan refleksi diri. Inilah yang membuat manusia masih dapat melihat secercah harapan akan masa depan yang lebih baik. Harapan itulah yang dalam sejarah perjalanan manusia telah berulang kali menyelamatkan manusia dari bencana. Harapan itu kini ditawarkan melalui apa yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai Humanisme Teosentris.

Humanisme Teosentris sebagai ganti Humanisme Antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Kuntowijoyo berangkat dari konsep iman dan amal saleh yang dalam Qur’an (QS.At-Tiin:4-6) dipandang dapat menghadirkan terjadinya dehumanisasi, terjatuhnya martabat kemanusiaan ke tempat yang paling rendah. Iman adalah konsep teosentris, Tuhan sebagai pusat pengabdian. Amal dimaksudkan sebagai aksi kemanusiaan. Amal adalah konsep humanisme. Amal tidak boleh dipisahkan dari iman. Melalui humanisme teosentris, manusia diharapkan mampu keluar dari keterpurukannya, menghargai kemanusiaannya sekali lagi.

Maka sejarah panjang tiga milenium dengan perlahan-lahan tapi pasti telah mengubah sisi kemanusiaan kita dari Homo sapiens nomaden pengumpul pemburu hingga menjadi politisi di parlemen yang mustahil hidup tanpa teknologi Homo Technologicus. Kita, manusia, bukan hanya mencipta teknologi untuk kemudahan dan kenyamanan hidup, tetapi bahkan menjadi kreator mesin-mesin pengganti manusia dengan kemampuan melebihi tubuh biologis kita sendiri.

 

Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 2021

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

 


Faber Mundi: Sang Pembangun

Mandat dari sang pencipta untuk manusia selain menghamba adalah memimpin. Dengan keistimewaan yang dimiliki manusia yakni akal budi nya, manusia mampu melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bukan hanya ilmu pengetahuan, berbagai penemuan alat, bidang seni, sastra dan masih banyak lagi. Penemuan-penemuan ini lah yang kedepannya menjadi landasan utama, manusia untuk membangun kebudayaan baru. yang akhirnya membentuk yang namanya peradaban manusia.

Secara bahasa, peradaban atau “civilation" adalah penduduk yang memiliki kemajuan dan lebih baik. Masyarakat pemilik kebudayaan tersebut sudah pasti memiliki peradaban yang tinggi. dalam bahasa Inggris disebut “civilization". Sedangkan, dalam bahasa Jerman “Die Zivilsation". Asal kata “civilization" dalam bahasa latin adalah “civilis" yang berarti sipil, berhubungan dengan kata “civis" (penduduk) dan “civitas" (kota).

Peradaban manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan peradaban tersebut tidak saja terjadi dalam ranah fisiknya saja, namun juga terjadi dalam ranah substansi. Sebagai contoh, pemahaman akan istilah peradaban saja sampai mengalami fase-fase yang cukup signifikan. Terlebih lagi jika terjadi persinggungan antara peradaban satu dengan yang lainnya.

Seiring dengan perjalanan hidup manusia yang sudah begitu panjang di muka bumi ini, maka berbagai macam peradaban pun telah terbentuk. Banyak peradaban yang telah mewarnai kehidupan manusia. Setiap peradaban tentu saja memiliki konsep tersendiri yang nantinya akan membedakan peradaban tersebut dengan peradaban lainnya dan akan tampil dengan keberbedaan satu-sama lain.

Sebut saja ada peradaban tertua di dunia Mesopotamia ada lagi Mesir Kuno, India, China dan banyak masih banyak lagi. Mengutip dari laman Liputan6.com "Arti penting air dan peradaban manusia". Ternyata air merupakan unsur terpenting dalam menghidupi proses pembangunan peradaban manusia.

Tercatat dalam sejarah dunia bahwa seluruh peradaban tertua dan terbesar manusia, dialiri air sebagai sumber daya penting yang mereka butuhkan. Wilayah yang dialiri air menjadikan tanah disekitarnya subur sehingga manusia yang dulu berpindah-pindah tempat (nomaden) mulai hidup menetap dengan bercocok tanam dan membangun peradaban.

Peradaban Mesopotamia tumbuh dan berkembang pada milenium ke 4 sebelum Masehi di Kawasan subur yang dialiri oleh 2 sungai yakni Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Ada pula sungai Nil yang menjadi awal peradaban Mesir Kuno hingga mampu membangun Piramida yang kokoh berdiri dengan agungnya. Di Asia Selatan muncul peradaban India Kuno yang berada di sekitar Sungai Indus, Sedangkan di wilayah Asia, tepatnya China Kuno terdapat peradaban di lembah Sungai Yangtze yang kemudian membangun kebudayaan Neopolitik tertua di China.

Berbicara soal air saya teringat seorang filsuf yunani kuno yang teori terkenalnya adalah air yaitu Thales. Bagi Thales jagad semesta ini berawal dari air, air adalah unsur utama pembentuk alam raya. Jika kita hubungkan dengan bukti adanya peradaban kuno tadi teori dari Thales ini terbukti baik empirik maupun rasional. Selanjutnya peradaban manusia semakin berkembang pesat seiring berjalannya zaman. Berbagai lompatan besar terjadi, mulai dari sektor pendidikan, industri, pertanian dan seterusnya. Akhirnya kita sampai pada zaman serba maju, otomatis dan praktis. Yakni zaman peradaban modern.

Menurut orang modern hari ini mereka tidak lagi menganggap dirinya sebagai Victor Mundi yakni orang yang berziarah di dunia. Melainkan sebagai Faber Mundi orang yang telah menciptakan dunianya. Baginya orang dulu hanya singgah dibumi makan lalu mati, namu sekarang manusia adalah pencipta masa depan dunia.

Perjalanan panjang manusia akhirnya sampai pada titik terang, bangkitnya sains dan teknologi menjadi lompatan besar manusia modern. Renaisance bisa juga disebut zaman pencerahan merupakan spirit yang digaungkan oleh manusia modern, karena berhasil meruntuhkan dominasi otoritarian agama yang selama ini agama terlalu mengontrol manusia. Bisa dikatakan kalau manusia modern ini memberontak dan membebaskan diri dari jerat aturan agama.

Pada akhirnya lahirlah istilah antroposentrisme, yang biasa di artikan merupakan, hari ini manusia menjadi pusat dari segalanya baik sains dan teknologi. Nah, ada 3 penemuan besar yang menurut saya menjadi titik tumpu lompatan besar manusia modern kala itu. Yakni Penemuan Kompas, seni cetak dan bubuk mesiu ada apa dengan 3 penemuan ini? Mari kita kupas perlahan.

Ditemukannya kompas menjadilan orang eropa berlayar menjelajahi dunia timur dan awal dari lahirnya istilah 3G (Gold, Glory, Gospel). Kolonialisme bisa dikatakan lahir atas semangat yang di bawa renaisans ditambah 3G sebagai semacam jargon kala itu. Dengan kompas ini dimulailah era Colombus, Marcopolo dan lain sebagainya.

Selanjutnya penemuan seni cetak, dengan ditemukannya seni cetak distribusi ilmu pengetahuan tidak hanya berputar di kalangan kaum elite, semua orang bisa mengakses dan mempajarinya. Dari sinilah mulai adanya surat kabar, majalah, poster-poster dan lain sebagainya.

Berikutnya ditemukannya bubuk mesiu, penemuan mesiu menjadi embrio awal senjata api yang kita kenal saat ini. Kala itu mesiu menjadi penemuan besar yang menandakan kekuasaan feodal telah runtuh, karena kaum proletar dapat memiliki senjata tersebut. Kaum proletar seakan menemukan apa yang ia cari selama ini, mesiu menjadi harapan kaum proletar.

Romo Franz Magnis-Suseno berpendapat ada dua alasan mendasar mengapa manusia tidak dapat menolak teknologi. Pertama, manusia modern tidak dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasarnya tanpa hadirnya teknologi. Kedua, kemenangan budaya teknologi sudah tidak dapat digagalkan lagi. Hal ini menjadikan manusia tidak memilki alternatif lain selain harus mempelajari sekaligus menguasai teknologi, serta harus memanfaatkannya untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Bertitik tolak dari ini, maka tidaklah ada alas hak untuk menolak teknologi dan teknologi telah diterima menjadi bagian hidup dan kehidupan manusia.


Diterimanya teknologi sebagai bagian tidak terpisahkan manusia berangkat dari sejarah kehidupan manusia itu sendiri yang selalu berusaha menciptakan teknologi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Teknologi yang diciptakan oleh manusia akanlah selalu berkembang sesuai peradaban manusia. Sejarah peradaban manusia dimulai dengan kehi-dupan yang sederhana. Pada mulanya manusia hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung menopang hidupnya dari hari ke hari, tidak ada perencanaan masa depan waktu itu. Kehidupan manusia yang berkembang semakin maju dan membentuk peradaban

Kemajuan sains dan teknologi hari ini justru menghantarkan manusia menuju gerbang kehancuran, sebut saja ketika ditemukannya bom atom, bioweapon, wacana membentuk koloni di planet mars. Tercatat tragedi Hiroshima dan Nagasaki  merupakan pertama kali bom atom digunakan dalam dunia militer, dampaknya bisa dilihat betapa mengerikannya kehancuran yang ditimbulkan “Si Little Boy” julukan bom atom itu. Bayangkan jika perang dunia 3 pecah yang di isukan akan terjadi perang nuklir antar negara.

Inilah hendaknya yang harus disadari setiap manusia, bahwa penemuan suatu teknologi harus dilihat jangka panjangnya, layak kah teknologi ini digunakan? Bagaimana nantinya umat manusia di masa depan?. Masifnya perkembangan teknologi tanpa memperhatikan sisi humanis hanya akan menghantarkan manusia menuju gerbang pemusnahan peradaban.


Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana


Mandat Sang MAHA Untuk Manusia

Sudahkah manusia tumbuh dan berkembang seperti harapan Tuhan? Sebenarnya apa yang diharapkan Tuhan kepada manusia? Atau Tuhankah yang salah berharap? Cukup membakar emosi bukan, mari kita kupas perlahan.

Aristoteles mendeskripsikan manusia sebagai hewan berakal sehat yang mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal pikiran. Setipis pemahaman saya dari yang diutarakan Aristo mungkin lebih kepada perbuatan manusia, termasuk di dalamnya perbuatan hina, karakteristiknya tetap dihargai sebagai manusia, bukan di identikkan dengan hewan, walaupun seperti (perbuatan) hewan dari segi sifatnya, tetapi substansinya tetap berbeda.

Manusia dan hewan sama-sama memiliki otak, namun otak hewan tidak bisa membuat persepsi. Hanya otak manusia manusia lah yang mampu membuat persepsi yang kemudian diuji coba untuk membuat suatu hipotesa. Kelak ini merupakan embrio dari ilmu pengetahuan yang digunakan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

D.C. Mulder Profesor asal Belanda mendefinisikan Manusia adalah makhluk yang berakal, akal yang menjadi pembeda pokok antara manusia dengan binatang, akal pula yang menjadi dasar dari segala kebudayaan. Abbas Mahmud Al-Aqqad penulis asal Mesir, Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan. Sebenarnya masih banyak pendapat para ahli, namun akan sangat sia-sia tulisan ini jika pembacanya merupakan agamawan lurus yang tidak mau membuka pikirannya.

Adanya manusia di semesta ini tentunya memiliki tujuan, tidak mungkin diciptakannya sesuatu tersebut tidak ada tujuan. Tentunya kita semua mengatahui bukan manusia cuma manusia yang diciptakan, ada hewan, tumbuhan dan ada lagi makhluk tak kasat mata. Masing-masing memiliki tujuan dan perannya sendiri dan peran manusia sebagai makhluk yang paling sempurna memiliki tugas dan tujuan sendiri.

Dalam berbagai cerita sejarah maupun ayat dalam kitab-kitab, manusia ada di bumi memiliki tugas sebagai pemimpin ada juga mengatakan manusia di bumi karena mendapat hukuman atas perbuatannya memakan buah terlarang, adanya ia di dunia sebagai penebusan dosa. Begitu banyak konon katanya, hingga kita bingung mana yang benar adanya.

Bagi saya sendiri, manusia itu harus bermanfaat bagi manusia lainnya, disamping kita mahkluk yang sosial. Manusia itu mahkluk yang sering kena sial, jadi adanya hidup kita yang bermanfaat kepada manusia lain, diharapkan akan membalas jasa kita. Ya perlu diperhatikan juga jangan terlalu mengharap balas jasa, tidak semua manusia mampu berada dalam level kepekaan yang sama.

Namun, menarik jika kita mencoba menyelami salah satu tujuan manusia itu sebagai pemimpin. Bukan berarti saya sebagai penulis berubah pikiran atas klaim sebelumnya. Ini karena saya mendapat benang merah di sini dari diciptakan dan tujuan manusia.

Akal budi manusia menurut saya adalah benang merah yang menyebutkan manusia adalah pemimpin di bumi. mengapa demikian? Sedangkal pemahaman saya kunci dari kesuksesan pemimpin adalah digunakan nya akal. Apabila seorang pemimpin tidak mempunyai akal, ia sama dengan seekor hewan berotak namun nir-akal.

Dalam islam manusia bertugas di bumi menjadi seorang khalifah atau pemimpin. Protestan   manusia di bumi adalah untuk berkuasa atas segala kehidupan di bumi. Hindu juga menyebutkan, tugas manusia adalah menjalankan Dharma yakni menjalankan etika dan ajaran-ajarannya, jika manusia melupakan maka keseimbangan dunia akan terganggu. Manusia memiliki tanggungjawab untuk menjaga keseimbangan.

Dari pandangan tersebut jika ditarik ada satu tujuan yang sama yakni pemimpin. Seorang pemimpin yang berakal, bisa menjalankan tugas dan mampu berlaku seimbang. Namun, sudahkah manusia saat ini menjalankan pedoman-pedoman tersebut sebagai seorang pemimpin? Sudah menjalankan namun untuk formalitas belaka .. ahh bullsh*t

Pemimpin hari ini banyak yang lupa dengan jati dirinya. Malah cenderung memilih jati diri hewan, rakus, egois, kanibal dst. Apa yang ada dibenakmu wahai pemimpin? Tuli dan membuta menjadi kelakuanmu ketika kau duduk diatas singgasana mu. Awal kampanye meronta-ronta cari suara, sudah menang lupa tanggung jawab hobi olah dana.

Memang secara fisik manusia mungkin lebih lemah daripada hewan. Hewan dilengkapi dengan peralatan untuk mempertahankan dirinya, seperti ayam jago dengan tajinya, harimau dengan kuku tajam dan taringnya, ular dengan bisanya, gajah dengan fisiknya yang besar dan kuat. Namun dengan akalnya, manusia dapat membuat peralatan untuk mempertahankan diri dan kehidupannya. 

Bagaimanapun lemahnya manusia, dengan akal manusia masih bisa menguasai mereka. Maka akan sangat disayangkan jika manusia yang istimewa berakal budi memiliki sifat dan perilaku yang seperti hewan. Hendaknya manusia tetap selalu membumi jangan lekas puas apa lagi jumawa dengan hasil yang didapat. Tetap rendah  dan rendah emosi menjadi pedoman mendasar menjadi seorang manusia.

 

Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana


 Kami memiliki 4 rubrik yakni Tokoh, Sastra, Opini, Berita Terkini.

Tokoh adalah ruang bedah biodata, pemikiran, peran dalam sejarah dan menelisik sosok tersebut. tidak ada batasan tokoh apa yang ingin anda kirimkan yang pasti bukan tokoh fiksi dan fantasi.

Sastra adalah ruang berekspresi yang berisi puisi dan cerpen. Segala ekspresi dipersilahkan tidak ada sensor kata atau larangan-larangan seperti ditempat lain.

Opini adalah ruang bedah pikiran pribadi, segala bentuk pikiran dipersilahkan masuk. Yang pasti tidak ada bentuk intervensi maupun ekspansi berpikir.

Berita Terkini adalah ruang berbagi informasi dari tim Al-Irfan.id dan hiruk pikuh kejadian yang terjadi disekitar anda. Yang terpenting bukan berita HOAX dan berita fiksi.

Ketentuan:

1.    Tulisan belum pernah dipublikasikan dan asli milik sendiri.

2.    Durasi tulisan (tidak termasuk puisi) minimal 700 kata, maksimal tidak terbatas.

3.    Untuk puisi minimal 2 puisi yang akan dimuat oleh tim Al-Irfan.id, maksimal tidak terbatas.

4.    Pengiriman harus disertai biodata singkat (nama,jurusan,asal kampus/lembaga)

5.    Cantumkan juga akun media sosial seperti Instagram, facebook, twitter (jika berkenan)

6.    Artikel bisa dikirim melalui demafuadtulungagung@gmail.com dengan subjek “judul-rubrik yang dibuat”

7.    Tulisan yang kami terima menjadi hak sepenuhnya tim Al-Irfan.id untuk mengedit dan memutuskan bahwa tulisan layak dimuat atau tidak.

8.    Tim kami menerbitkan tulisan selambat-lambatnya 1-2 minggu setelah tulisan kami terima. Jika dalam tempo tersebut belum diterbitkan, silahkan kembali koreksi dan evaluasi diri.

 

Salam Literasi

Tim Redaksi Al-Irfan.id

 


Mari sejenak kita menelisik alam pikiran dan kehidupan seorang penyair asal Palestina yang terkenal dengan sastra perlawanannya. semoga dengan adanya tulisan ini, dapat menyadarkan dan menggugah jiwa Humanisme kita semua tentang konflik tak berkesudahan yang sedang terjadi di Negara Palestina. Pray For Palestina!

Mahmoud Darwish lahir pada 13 Maret 1941 di Al-Birwah. Al-Birwah adalah sebuah nama desa yang terletak 10 KM di timur kota Akko Palestina, sekarang (Israel). Pada tahun 1948 desa ini menjadi salah satu desa yang dibumihanguskan oleh Zionis Israel.

Mahmoud Darwish merupakan anak kedua dari pasangan Salim Darwish dan Hurriyah Darwish, keluarganya merupakan penduduk asli desa Al-Birwah Palestina. Warga desa ini bernasib sama dengan warga desa lainnya, mereka terpaksa keluar dari tanah airnya sendiri akibat adanya serangan tak bermanusiawi para zionis Israel. Darwish dan keluarga memutuskan melarikan diri ke Lebanon.

Pada 1970, Mahmoud Darwish meninggalkan Palestina dan melanjutkan studi ke Rusia di Universitas Moskow. Setelah menyelesaikan studinya ia pindah ke Paris, di Paris ia menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah sastra paling berpengaruh yaitu Al-Karmel. Selama di Paris ia pernah menulis Memory Of Fogetfulness(1987) yang 8 tahun kemudian diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Inggris. Memoar itu mengisahkan situasi kota Beirut di bawah hujan bom Zionis Israel (1982).

Darwish juga pernah menyusun isi deklarasi kemerdekaan palestina pada tahun 1988 dan menjadi anggota komite eksekutif Palestine Liberation Organization (PLO) sampai tahun 1993. Kemudian ia keluar dari PLO sebagai protes atas Kesepakatan Oslo yang lebih memihak Israel.

Darwish sejak awal kiprahnya dalam dunia kesastraan, telah melahirkan puisi-puisi penggugah dan pembangkit bangsa Palestina. Dalam bait-bait puisinya ia secara eksplisit menyebutkan nama Palestina beserta kota-kotanya, mengemukakan peristiwa di Palestina, budaya Palestina serta seruan pejuangan untuk kemerdekaan Palestina.

Sebagai salah satu penyair sastra perlawanan ia menyatakan bahwa Adab Al-Muqawamah “sastra perlawanan” digunakan untuk menolak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Menurutnya alat dalam sastra perlawanan adalah kata-kata dalam puisi harus ditulis dengan seluruh perasaan agar mampu membangkitkan semangat dan daya juang pembacanya.

Mahmoud Darwish merupakan sosok yang membangkitkan rasa revolusioner bangsa Palestina atas penjajahan para zionis Israel. Bahasa puitis yang dituangkan oleh Darwish telah mengilhami solidaritas dan harapan bangsa Palestina. Hal tersebut lah yang menjadi alat memprovokasi perlawanan dan membangkitkan kemarahan untuk memberontak para penjajah.

Seperti yang kita ketahui bahwa peran puisi dalam perjuangan pembebasan itu sendiri telah menjadi suatu hal yang sangat penting, baik sebagai kekuatan untuk memobilisasi respon kolektif terhadap pendudukan yang mendominasi serta sebagai gudang memori dan kesadaran populer.

Rasa humanisme Darwish sendiri muncul atas penindasan-penindasan yang seringkali muncul di depan matanya sendiri, hal  ini lah yang membuat syair-syairnya secara tidak langsung mengarah kepada Zionis Israel. Ada sebuah puisi Mahmoud Darwish yang berjudul I Have Witnessed The Massacre, yang pertama kali dipublikasikan di Beirut 1977 dalam bahasa Arab. Berikut terjemahannya:


Aku menjadi saksi pembantaian

Aku seorang korban dari peta buatan

Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan

Aku melihat koral berterbangan

Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan

Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku

Memasang barikade dan menetapkan jam malam

Hatiku berubah jadi lembah

Sulbiku menjelma batu

Dan bunga-bunga anyelir tumbuh

Dan kembang-kembang anyelir mekar


Puisi itu dengan terang melukiskan metamorfosis jiwa Mahmoud Darwish dari seorang saksi menjadi seorang korban yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang yang melawan. Namun demikian, pada bagian akhir sajak itu dengan simbolisme yang halus, ia memperlihatkan optimismenya bahwa pada suatu ketika harapannya tentang perdamaian yang panjang dan menyeluruh dengan kehidupan itu akan tumbuh dan mekar dibumi Palestina.

Mahmoud Darwish seorang pujangga tangguh, pujangga yang menolak dipatuhkan oleh rezim atau gagasan-gagasan politik picisan. Ia terus bersastra, mengantarkan puisi-puisi dikeramaian omongan dan menentang perjanjian-perjanjian politik yang sering teringkari. Ia sudah menata biografi dengan segala kehilangan, Sekian masih terpegang dan teringat dalam ketuaan. Puisi-puisi masih bersuara, menemui pembaca-pembaca di Arab dan negeri-negeri yang jauh.

Pada 09 Agustus 2008 ia kembali kepangkuan Allah SWT dalam usia 67 tahun dengan tenang. Tiga hari setelah operasi bedah jantung di Memorial Herman Hospital, Houston, Texas, Amerika Serikat. Darwish dimakamkan di samping Istana Budaya Ramallah, disebuah bukit menghadap kota Yerusalem. Mahmoud Abbas presiden Palestina, memberikan pidato terakhir dan mengumumkan suasana berkabung nasional selama tiga hari.

 

Muhammad Faried

(Aqidah dan Filsafat Islam)

LITERASI DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

 


2 Mei 2021 telah dilalui dengan berbagai ucapan Hari Pendidikan  Nasional. Tapi, sadarkah kita dengan praktek industrialisasi di dunia Pendidikan Indonesia? Padahal sejatinya pendidikan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia.

Lagi-lagi dalih tuntutan perkembangan zaman. Jika melihat pada masa Ki Hadjar Dewantara, pendidikan ini supaya para masyarakat Indonesia yang diperbudak oleh penjajah bisa melawan dan tidak terus diperdaya. Relevankah semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani untuk saat ini?

Pelajar, Mahasiswa bahkan Guru seperti robot-robot untuk memenuhi tujuan zaman industri. Belum usai penanaman moral bangsa melalui pendidikan nasional, hadir Era Society 5.0. Sedang di Era Revolusi 4.0 pendidikan masih carut marut. Baik pendidik dan yang dididik, belum sesuai dengan tujuan pendidikan pada UUD RI Tahun 1945.

Seperti halnya budaya kecil yang sudah melekat yakni menyontek. Apabila ini terus melekat pada diri anak hingga ia dewasa, maka tindakan plagiarisme akan semakin meningkat. Rasa tanggungjawab terhadap tindakan pun sedikit. Ini hanya satu tindakan kecil saja.

Coba kita beralih pada masa remaja hingga dewasa. Pendidikan hanya dijadikan ajang mendapat ijazah. Guru pun berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi. Apakah kualitas yang tersertifikasi selalu bagus? Belum tentu!

Ketidaksiapan pendidik dan yang dididik akan menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia di masa depan. Tak perlu deh menunggu masa depan. Lihat saat ini saja, hadirnya digitalisasi pendidikan yang dipercepat oleh pandemi Covid-19 sudah membuat semua kuwalahan.

Kemampuan berteknologi memang semakin meningkat karena tuntuan kondisi. Tapi, stratifikasi sosial semakin tampak. Pendidikan nasional akan semakin mudah diakses dan didapatkan bagi yang cukup dalam sarana prasarana. Bagaimana bagi yang tidak mencukupi? Mereka tercekik! Teriakkan dan jeritannya pun tak lagi bersuara.

Contoh sederhananya saja, apabila di suatu daerah tidak ada sinyal yang bagus tetapi ia memiliki gawai yang bagus. Apakah bisa berguna gawai tersebut? Kalaupun berguna itu harus menyusuri berbagai rintangan.

Lantas bagaimana langkah untuk bisa merealisasikan pendidikan nasional seperti yang diamanatkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945?

1. Pendidik dan yang dididik secara sadar dalam menuntut ilmu agama. Maksudnya, harus sadar dengan apa yang dituturkan dan diperbuat. Serta bertanggungjawab atas dampak yang ditimbulkan. Hal ini dilakukan tidak hanya pendidik dalam bidang agama tetapi semua. Jadi, belajar mengajar tidak sekedar berlangsung karena penerapan kurikulum. Penanaman karakter pun bisa maksimal.

2. Transfer pengetahuan  yang diterapkan harus melihat kondisi yang dididik. Tidak sekedar menyampaikan ilmu tapi tidak merefleksi apa yang diterima pelajar maupun mahasiswa.

3. Mengenali motivasi belajar baik pendidik, pelajar, maupun mahasiswa. Apabila masih ada motivasi belajar yang berdampak negatif, perlu diarahkan pada motivasi yang berdampak positif.

Memang proses ini membutuhkan waktu yang lama tapi dampaknya pun juga lama. Kalau pendidikan nasional hanya terus berdalih tertuntut perkembangan zaman, benar saya yakini bahwa Indonesia akan tinggal nama. Perbaiki kunci dari kehidupan. Jangan sekedar merajut buih di lautan. Analoginya pendidik dan yang dididik saat ini adalah ikan yang dituntut alam untuk terbang.

Pencapaian taraf internasional untuk apa? Jika masih banyak pendidik dan pelajar yang belum tersentuh pendidikan nasional. Kalaupun sudah tersentuh, mereka dicetak untuk bekerja. Dan pada akhirnya pekerjaannya pun tak berdasar moral melainkan pemenuhan nafsu sehingga tidak mempedulikan saudaranya yang tercekik. Sirkulasi masyarakat Indonesia akan terus seperti ini, jika pendidikan nasional hanya menjadi ajang kontestasi, politisasi, dan komoditas.

 

Zulfa Ilma Nuriana

(Psikologi Islam)

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22




Pada tanggal 02 Mei merupakan hari “Pendidikan Nasional”, dimana menjadi momentum untuk memperingati hari pendidikan nasional di Indonesia. Dengan pendidikan, tentunya akan mencerdaskan para generasi-generasi muda penerus bangsa. Namun sayangnya pendidikan di Indonesia semakin hari semakin tidak jelas arusnya kemana dan untuk siapa. Timbul pertanyaan-pertanyaan

Apakah semboyan Ki Hajar Dewantara masih relevan untuk saat ini?

Tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah bagaimana semua pihak-pihak terkait berpartisipasi dalam penyelenggaraannya. Sebuah negara dapat dikatakan berkembang jika dilihat dari sistem dan praktik pendidikan di negara tersebut apakah sudah berjalan sesuai alurnya atau tidak. Yang seharusnya pendidikan menjadi hak bersama tanpa memandang terikat oleh apapun, menjadi ajang kepentingan untuk golongan-golongan tertentu.

Komodifikasi pada pendidikan mengubah nilai pendidikan itu sendiri, yang awalnya adalah nilai guna berubah menjadi nilai tukar. Komodifikasi pendidikan khususnya di Indonesia menarik jika di lihat dari 2 sudut pandang, Historis dan Filosofis. Dari segi historis ada kolonialisme sebagai proyek penyadaran dari barat sebagai tolok ukur utama. 

Dari segi filosofis dilihat dari sudut pandang Paulo Freire seorang aktivis pendidikan yang berpengaruh di dunia, dimana setiap pembelajar selalu dihadapkan dengan sistem yang mapan pelajar dididik sebagai buruh.

Meskipun kerja itu penting, apakah pendidikan sesederhana itu sehingga hanya menghasilkan buruh-buruh baru?

Bahkan Yang belum pasti gaji dan pekerjaannya sesuai dengan apa yang dilakukan.Pengaruh kolonialisme yang memberikan pemahaman sekolah untuk bekerja hanya akan membuat manusia mencukupi kebutuhan perut dan mengesampingkan kebutuhan intelektual. 

Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal untuk menyangsikan segala sesuatu adalah kodrat, dan kemampuan untuk mengetahui value sebuah fenomena akan tereduksi oleh sistem pendidikan yang orientasinya adalah mencetak buruh..

Bicara soal ilmu pengetahuan yang hanya membicarakan untung dan rugi, akan berakhir pada pemahaman praktis dari setiap kepala.  Manusia akan saling serang, hilang adab, minimnya toleransi serta jauh dengan istilah merdeka. Dan tentunya ini sudah jauh keluar dari tujuan pendidikan yang akan mencerdaskan para generasi muda penerus bangsa.

Pada momentum yang baik inilah kami selaku Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah mengaadakan forum perdiskusian untuk memepringati hari  pendidikan nasional dan juga untuk mengasah pengetahuan intelektual mahasiswa FUAD serta menjadikan bentuk kepedulian kami selaku mahasiswa terhadap pendidikan yang ada di Indonesia.

Maka dari sini kami melaksanakan acara Forum Mahasiswa FUAD Akbar dengan tema: “Stratifikasi Sosial dan Darah Juang Kurrikulum di Indonesia”. Yang mana diskusi kali ini dipandu oleh moderator dari koordinator devisi intelektual Dewan Eksekutif Mahasiswa FUAD yakni saudari Ika Tirta Sakilah dan diisi oleh dua pemateri handal dalam bidang ini. 

Pemateri pertama adalah Dr. H. M. Dimyati Huda beliau adalah seorang pemerhati mistik jawa dan ketua LP2M di Universitas Nahdhatul Ulama Blitar. Sebagai akademisi yang memiliki berbagai pengalaman dalam dunia pendidikan tentunya beliau menjadi pemateri yang sangat cocok dalam pembahasan pada diskusi kami.

Dalam materi yang disampaikan beliau, fokus yang beliau ajarkan pada pola pendidikan di Indonesia adalah bagaimana mahasiwa selaku akademisi tidak hanya harus menjadi cerdas dengan ilmu pengetahuan tetapi juga harus peka terhadap permasalan masyarakat sekitar. 

Selain itu beliau juga menceritakan tentang sejarah pendidikan secara filosofis yang terjadi di Indonesia yang mana salah satu pesan beliau adalah “Jangan merasa rendah diri jika tidak memiliki harta, namun jadilah rendah diri ketika tidak memiliki pengetahuan” yang mana beiau menegaskan bahwa kekayaan sesungguhnya ada pada hati dan ikiran bukan pada kekayaan belaka.

Pemateri yang kedua adalah Bapak Muhammad Safi’I beliau merupakan alumni IAIN Tulungagung Fakultas Tarbiyah, yang mana sekarang beliau merupakan seorang guru, disini tentunya sebagai seorang pendidik beliau memahami pola pendidikan dan kurikulum yang ada di Indonesia. 

Dalam penjelasannya beliau menerangkan berbagai kurikulum yang sudah ada di Indonesia salah satu pesan beliau adalah “Perubahan kurikulum bagaikan usaha kita daalam mengikuti perkembangan yang ada, yang mana kita hidup bagaikan menaiki treatmil, dimana saat menaiki treatmil kita harus berupaya terus berlari mengikuti perkembangannya”.

Selain dua pemateri handal yang menyajikan materi dengan baik serta menimbulkan antusias para peserta acara ini juga di buka oleh guest star dari lembaga semi otonom yang ada di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, yakni Grub Sholawat Fajrul Ummah.

 Acara ini di hadiri oleh 13 ketua lembaga yang ada di FUAD dan kurang lebih 50 mahasiswa FUAD.  Acara ini dilaksanakan di balai desa Tunggul Sari di mulai pukul 15.00 WIB dan diakhiri dengan buka bersama dengan semua peserta yang hadir.

 

Tirta Ika Sakilah 

(Psikologi Islam)

C.O Devisi Intelektual DEMA FUAD 21/22


Manusia adalah makhluk dengan banyak ciri yang dapat mendeskripsikan, salah satunya melalui budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar untuk diubah.


Saya tidak ingin membahas budaya manusia berdasarkan suku serta adat yang beragam jenisnya, tetapi saya akan sedikit mengulik tentang kebiasaan manusia secara umum yang tanpa kita sadari bahwa saat ini fenomena tersebut telah menjadi budaya global.


Manusia hari ini hidup di tengah maraknya penggunaan internet sebagai alat untuk berkomunikasi serta bukti atas kemajuan Sains dan Teknologi. Meskipun tujuan awal dari kemajuan teknologi untuk mempermudah aktivitas manusia sehari-hari, tetapi imajinasi "mempermudah" disini menjadi Boomerang bagi penciptanya.


Diluar prediksi, kemajuan teknologi itu terjadi lebih cepat dari apa yang direncanakan. Menyapu habis batas kemampuan manusia untuk berbuat, menjadi gagah sekaligus lemah dengan prestasi yang dicapainya. Mempermudah aktivitas sekaligus mudah menjebak.


Dari awal jempol berkelana di media sosial, mata ini dipaksa untuk melihat sebuah informasi yang sama sekali tidak ada gunanya. Ya, seluruh story baik Instastory maupun Whatsapp Story banjir degan ucapan "selamat hari buku sedunia" ditambah dengan sedikit Quotes bijak dari konten kreator.


Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemirsa dengan keberadaan informasi tersebut? Ya, hari ini adalah hari buku, dan dikemudian hari adalah hari peringatan yang lain dan akan muncul fenomena yang sama di media Maya. Terlebih untuk saat ini memperingati hari momentual melalui media tergolong sesuatu yang hitz dan didukung juga oleh realitas fisik yang masih pandemi dan kontak fisik dibatasi.


Seakan-akan lingkungan juga memaksa manusia untuk berlarut-larut dalam dunia Maya, entah alam sudah muak dengan manusia karena hanya jadi perusak atau alam menyuruh manusia untuk mensyukuri nikmat gadgetpedia.


Fenomena semacam ini pada titik puncaknya hanya akan membawa kreator pada lajur kontestasi kreativitas saja, serta kehilangan sebuah entitas dari muatan yang disampaikan. Semakin banyak pamflet ucapan tersebut bertebaran, maka semakin sulit fikiran manusia untuk menangkap muatan yang dibawanya. Terlebih jika kreativitas itu beragam, akan lebih memanjakan mata dan mengundang gaya informasi baru dan berimbas pada muatan yang kehilangan entitasnya.


Tapi mau bagaimana? Keadaan tersebut telah menjadi rutinitas momentual bagi kita. Pada awalnya diharapkan untuk memantik ruang kontemplatif tentang kesadaran literasi tetapi pada akhirnya malah memantik kesadaran kreativitas produksi design dengan gaya yang memanjakan mata.

"ini lho yang nyata, saingi saja design saya, lupakan muatan didalamnya karena itu tidak penting, selebihnya ini hanya formalitas agar di anggap update dan peka terhadap lingkungan".


Keadaan semacam ini sebenarnya sudah sering menjadi pembahasan di forum-forum dialektika wacana. Jean Baudrillard merupakan salah satu filsuf yang mampu menelanjangi skema media sosial. "Simulacra and simulation" menjadi senjata untuk mengkritisi budaya manusia postmodern yang penuh ketidakpastian.


Simulasi adalah suatu keadaan dimana realitas fisik dimanipulasi dan dikontruksikan ke dalam pikiran untuk kepentingan konsumerisme atas produksi suatu industri tertentu (iklan). Karena simulasi, realitas itu sendiri bangkrut, digantikan oleh duplikasi, imitasi dan simbol-simbol serta dunia fantasi.


Fenomena tersebut kata Baudrillard menciptakan sesuatu keadaan Hiper-realitas. Hyperealitas dalam arti mudahnya adalah sebuah gagasan bahwa gambar di dalam layar kaca lebih terlihat nyata daripada realitas fisik, mendahulukan ekstasi akan citraan dan permukaan ketimbang nilai transendental (Moses 2019).


Mekanisme simulasi menurut Baudrillard bahwa realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda, citra model-model reproduksi tidak mungkin lagi menemukan referensi yang real, membuat pembedaan antara representasi dan realitas, citra dan kenyataan, tanda dan ide, serta semu dan yang nyata. (Baudrillard,1999 dalam Astutik 2015).


Manusia berlomba-lomba untuk menyediakan informasi dengan memposting sejenis pamflet dimedia yang dimilikinya. Tanpa sadar,pamflet tersebut mewakili kejadian asli, karena yang menghampiri pemirsa hanyalah simulasi dari kemurnian fenomena yang terjadi. Mewakilkan suatu hal dengan yang lain merupakan keadaan dimana produk imitasi di buat dan  distribusikan kepada khalayak umum.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai pada ruang tanpa batas, kemudian mata-mata itu dimanjakan dengan pemandangan yang di munculkan dari genggaman tangan. Entah asli atau nyata, sekilas terlihat sama tanpa celah yang membatasinya.


Keadaan ini semakin jelas adanya ketika kita bersosial menggunakan platform media. Tidak perlu jauh-jauh untuk menghampiri rekan yang entah berapa meter jaraknya untuk sekedar tanya tugas kuliah. Cukup dengan saling membuat akun di salah satu platform media sosial untuk saling terkoneksi satu sama lain. Jarak itu dipangkas habis-habisan dengan tumbal beberapa rupiah untuk membeli jaringan. Manusia terwakili dengan memasang foto dan nama di akun media sosial.


"Manusia menjadi tiada karena media sosial telah menggantikan keber-ada-annya. Realitas fisik hanya iming-iming saja, Dunia Maya adalah tempat dimana eksistensi bertarung dan bertegur sapa"


Realitas yang sedang kita tempati saat ini adalah realitas palsu, Maya tidak nyata. Manusia termanjakan oleh penampakan informasi, fantasi dan hidup diantara tanda. Nyata sekaligus palsu karena kehilangan kemurnian asali, fakta itu terdistorsi dan lenyap dibawah kenyataan simulasi. Manusia akan dibawa semakin jauh dari kehidupan nyata, jauh dari identitas dan berakhir pada tertindasnya pikiran mereka.


Sebenarnya kritikan ini datang bukan untuk tekhnologi, karena dengan jelas bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dihindari dan dibatasi. Kritik ini lebih menampar manusia yang melupakan realitas fisik dan lebih asik dengan dunia Maya. Berbela sungkawa melalui media tetapi acuh ketika bertatap muka. Saya heran, banyak orang menangis karena drama Korea tetapi tau kisah teman dengan pacarnya yang dramatis. biasa saja, Aneh.

 

Admin Shopee