THE END: SIAPA ITU MANUSIA?

Akhirnya kita sampai pada penghujung seri trilogy pembahasan  tentang "Siapa itu Manusia?". Sebelum ini ada dua tulisan berjudul "Mandat Sang Maha Untuk Manusia", "Faber Mundi: Sang Pembangun" dan yang terakhir "Homo Technologicus: Sang Penghancur". Dari saya, ada kurang lebihnya mohon maaf sebesar-besarnya.


 


Homo Technologicus: Sang Penghancur

Suatu peradaban besar memang tidak bisa dibunuh, mereka lah yang mencabut nyawanya sendiri. Mungkin itu kalimat pembuka yang ngeri-ngeri sedap, namun bagian ini kita sampai pada pembahasan yang ngeri-ngeri sedang terjadi. Modernisme lahir dengan mengusung seabrek janji-janji kemanusiaannya. Sudah lah terpenuhi? Atau malah menjadi jebakan masa depan bagi kita sendiri?

Peradaban modern dimulai dari geliat renaissance yang kemudian mengkoar-koarkan janji-janji kemanusiaannya, peradaban baru yang mengusung misi humanisasi ini membangun peradaban dengan kecepatan tinggi. Karya besar gerakan humanisme ini dapat kita saksikan pada peradaban modern yang kita saksikan di era saat ini.

Namun, dalam perjalanannya yang panjang, Humanisme Antroposentris ini ternyata tidak benar-benar mampu mewujudkan janji-janji manisnya. Manusia berada dalam ancaman serius berupa bencana alam dan perbudakan manusia oleh manusia lain dan perbudakan manusia oleh teknologi yang ia ciptakan sendiri.

Pada abad Pertengahan, manusia terpenjara dalam kekuasaan Gereja yang absolut. Manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Kemudian muncul Renaissance yang berusaha menjungkirbalikkan keadaan. Kedaulatan manusia yang telah lama terenggut darinya dikembalikan pada manusia. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai humanisme antroposentris, humanisme yang memandang manusia sebagai pusat kebenaran dan kesalahan.

Mungkinkah semua ini berawal perlawanan dari Martin Luther? Mungkin iya. Humanisme barat lahir akibat kekuasaan gereja yang otoritatif dan dogmatis. Bagi mereka tuhan Itu merupakan sosok pembelenggu manusia, manusia menjadi terkungkung dalam penjara agama yang mengatur segala tingkah laku manusia. Renaissance lahir dan berusaha merebut kembali kedaulatan manusia yang selama berabad-abad direnggut dari gereja.

Renaissance adalah kudeta atas kekuasaan Gereja. Melalui antroposentrisme atau humanisme antroposentris, peradaban Barat mengalami revolusi. Pandangan antroposentris beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan, tapi pada manusia. Manusia bukan alat bagi tuhan, manusia individu dengan segala individualnya. Apakah sebenarnya senjata manusia antroposentris? Rasio. Rasio memungkinkan manusia menjadi penguasa. Ketika manusia berpikir maka pada saat itu dia menjadi subyek dan segala yang dipikirkan menjadi objeknya. Manusia yang berpikir adalah subyek. Subyek aktif terhadap objek pasif. Subyek menguasai, objek dikuasai. Itulah hukum subyek-objek.

“Knowledge is power - Francis Bacon" Itu sebabnya siapa yang  memilki ilmu pengetahuan ia memiliki kekuatan dan kekuasaan. Karena jalinan yang erat antara ilmu dan kakuasaan inilah maka ilmu tidak pernah dapat melepaskan diri dari kepentingan. Zaman peradaban modern berhasil menciptakan mesin-mesin perang terhadap alam berupa teknologi canggih untuk menaklukkan dan mengeksploitasi alam tanpa batas, juga mesin-mesin perang terhadap manusia berupa senjata-senjata canggih supermodern, bom, bahkan juga senjata pemusnah massal. suatu kehancuran manusia dan kemanusiaan, yang terjadi setelah manusia secara gemilang berhasil “membunuh” Tuhan. Kata Francis Bacon, “Ilmu meninggalkan pencarian kebenaran dan beralih untuk mencari kekuatan”.

Alfin Toffler di dalam bukunya The Third Wave (William Morrow & Company New York, 1980) ada tiga gelombang peradaban manusia, yaitu gelombang pertama, yang juga disebut gelombang pembaharuan, manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Dengan itu, manusia yang semula hidup berpindah-pindah untuk mengumpulkan hasil hutan hasil hutan menjadi suka tinggal menetap di suatu tempat yang lalu disebut desa. Ciri gelombang ini adalah manusia menggunakan energi yang sudah disediakan alam, seperti otot binatang, matahari, angin dan air.

Gelombang kedua, yakni zaman Revolusi Industri yang ditandai beralihnya manausia ke energi tak terbarukan, seperti minyak, batu bara dan gas. Selain itu, dalam masa ini telah ditemukan mesin, diawali dengan mesin uap, yang tidak saja dapat menggantikan otot manusia, tetapi juga dapat dipadukan menjadi pabrik yang lalu menghasilkan barang produksi dan konsumen.

Gelombang ketiga, yakni zaman informasi yang ditandai dengan suatu peradaban yang didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan juga pengolahan data, penerbangan dan aplikasi angkasa luar, energi alternatif dan energi terbarukan serta rekayasa genetik dan bioteknologi, dengan komputer dan mikroelektronika sebagai dasar teknologi intinya.

Berdasarkan ketiga kategori tersebut dapat disimpulkan bahwa modernnya suatu peradaban manusia berkorelasi dengan teknologinya. Kemajuan peradaban dalam gelombang ketiga ini terlihat dengan hadirnya internet (interconnected-networking) sebagai bagian revolusi teknologi manusia di abad ke 21 ini, yang terbentuk konvergensi teknologi komputer dengan telekomunikasi, telah berhasil melahirkan teknologi baru yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Perkembangan dunia teknologi yang demikian mengagumkan telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Ditemukannya formula-formula baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Di Jepang beberapa individu lebih memilih produk teknologi yang ganjil seperti robot seks untuk dijadikan pacar daripada manusia bernyawa bernama wanita. Jika sebagian dari kita menganggap itu hal gila dan amoral, saya sarankan Anda perlu menunaikan hak demokrasi Anda untuk protes di depan kantor pemda Tokyo di Jepang.

Semakin kesini perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi  modern tidak membuat manusia memahami dirinya, bahkan semakin jauh dari dirinya sendiri. Kata Alexis Carrel “Sejauh manusia tenggelam dalam dunia luar dan telah mencapai kemajuan di sana, sejauh itu pula ia terasing dari dirinya sendiri dan lupa pada hakikatnya sendiri”. Itulah ironi besar manusia modern. Ia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berhasil membangun dan memoles makhluk manusia, tapi kurang tahu apa hakikat yang ia bangun dan poles itu. Yang terjadi selanjutnya adalah perbudakan manusia oleh apa yang ia ciptakan sendiri. Ilmu pengetahuan dibebaskan dari sikap takluk pada agama hanya untuk menjadi tunduk pada kekuasaan.

Teknologi yang seharusnya menjadi alat kemanusiaan untuk melepaskan diri dari perbudakan kerja, justru berubah menjadi suatu mekanisme yang memperbudak manusia sendiri. Dan kapitalisme, bayi raksasa yang terlahir dari peradaban ini yang kini telah menjadi kakek tua, adalah tukang sihir baru yang menyihir kemanusiaan hingga masuk dalam penjara baru roda-roda raksasa tak berbelas kasihan dari mekanisme dan tekno-birokrasi. Dalam sistem kapitalis, manusia hanyalah binatang ekonomi yang tugasnya hanyalah merumput dalam surga dunia ini.

Manusia memang tengah berada dalam ancaman yang sangat mengerikan, bencana kemanusiaan dan ancaman punahnya manusia itu sendiri. Tapi, satu hal yang membanggakan dari manusia adalah kemampuan refleksi diri. Inilah yang membuat manusia masih dapat melihat secercah harapan akan masa depan yang lebih baik. Harapan itulah yang dalam sejarah perjalanan manusia telah berulang kali menyelamatkan manusia dari bencana. Harapan itu kini ditawarkan melalui apa yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai Humanisme Teosentris.

Humanisme Teosentris sebagai ganti Humanisme Antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Kuntowijoyo berangkat dari konsep iman dan amal saleh yang dalam Qur’an (QS.At-Tiin:4-6) dipandang dapat menghadirkan terjadinya dehumanisasi, terjatuhnya martabat kemanusiaan ke tempat yang paling rendah. Iman adalah konsep teosentris, Tuhan sebagai pusat pengabdian. Amal dimaksudkan sebagai aksi kemanusiaan. Amal adalah konsep humanisme. Amal tidak boleh dipisahkan dari iman. Melalui humanisme teosentris, manusia diharapkan mampu keluar dari keterpurukannya, menghargai kemanusiaannya sekali lagi.

Maka sejarah panjang tiga milenium dengan perlahan-lahan tapi pasti telah mengubah sisi kemanusiaan kita dari Homo sapiens nomaden pengumpul pemburu hingga menjadi politisi di parlemen yang mustahil hidup tanpa teknologi Homo Technologicus. Kita, manusia, bukan hanya mencipta teknologi untuk kemudahan dan kenyamanan hidup, tetapi bahkan menjadi kreator mesin-mesin pengganti manusia dengan kemampuan melebihi tubuh biologis kita sendiri.

 

Muhammad Faried

Devisi Literasi DEMA FUAD 2021

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

0 komentar:

Post a Comment