Sebagaimana telah
menjadi kesadaran kolektif mahasiswa Fuad, Gelar FUAD sebagai Jantung
IAIN TULUNGAGUNG merupakan sebuah anugerah sekaligus tantangan
tersendiri bagi teman-teman FUAD.
Premis tersebut seringkali di lafalkan oleh Bapak Ahmad Rizqon Khamami selaku Dekan FUAD di beberapa kesempatan. Jika dalam pemahaman saya, beliau ingin membangun rasa percaya diri serta memperkokoh komitmen mahasiswa sebagai manusia yang critical thinking nya Bekerja.
Komitmen untuk selalu
mengasah kemampuan analitisnya. anugerah yang melekat adalah kesempatan
mendapatkan ilmu yang tidak hanya di dalam kelas. selain sebagai penunjang IPK,
paling minimal relasi intersubjektif itu terjadi diantara kita.
Forum-forum diskusi
baik kecil maupun besar di kembangkan melalui ormawa yang ada di FUAD, baik
dari HMJ hingga DEMA senantiasa menjaga akal sehat mereka, memberikan
ruang-ruang layaknya Agora pada masanya. Tak puas dengan itu,
sebagian mahasiswa yang lain memanfaatkan setiap pertemuan di warung kopi
sebagai media untuk berdialektika.
Hingga pada titik
paling atas, kegiatan semacam ini menjadi budaya, serta tidak sedikit juga
mahasiswa FUAD yang lebih mementingkan khasanah keilmuannya daripada penampilan
hingga mahasiswa FUAD identik dengan rambut gondrong dan pakaian apa adanya.
Dalam istilah lain,
temen-temen di FUAD ini suka gibah tetapi gibah dalam konotasi positif.
Membicarakan tokoh-tokoh besar mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah
kebiasaan yang halal sekaligus menjadi rukun iman setelah beriman kepada qodo'
dan qodar.
Membaca buku dan
berdiskusi tidak sah rasanya apabila tidak melahirkan produk berupa karya
tulis. Maka diperlukan sebuah media untuk menampung baik gagasan maupun opini
mahasiswa. Saya rasa, beberapa HMJ di FUAD telah memiliki media berupa Blog
untuk menampung karya tulis mahasiswa jurusannya dengan catatan dalam kriteria
yang telah ditentukan.
Juga sering muncul di
poster-poster, History Whatsapp "open donasi karya
tulis", "FUAD menulis" dst. Maka jangan heran apabila
buku-buku antologi baik esai maupun puisi itu lahir pertama kali dari goresan
pena mahasiswa FUAD, karena memang semenjak semester awal sudah dibiasakan
untuk menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan.
Dema FUAD sendiri
telah memiliki media guna menampung karya tulis teman-teman FUAD sejak
bertahun-tahun yang lalu dengan nama "Al-Irfan". Memiliki
fokus pada buletin yang konon katanya setiap dua Minggu sekali mampu terbit dan
dicetak, kemudian dibagikan dikelas-kelas untuk dibaca dan dinikmati
oleh mahasiswa. Tentu, setiap periode memiliki sisi perbedaan dalam
pengelolaannya.
Buletin al-irfan
pernah mengalami masa "The dark Age" dimana vakum dalam kurun
waktu dua periode kepengurusan Dema FUAD. Terakhir aktif dalam karya berupa
buletin pada tiga periode di atas periode sekarang. Pada periode kali ini, Al
Irfan ingin dilahirkan kembali, dalam bentuk yang berbeda. Bukan berupa buletin
yang deadlinenya terkadang mengejar, dengan pertimbangan deadline tugas
saja telah berhasil menggerogoti mental mahasiswa.
Namun, Al-Irfan terlahir kembali sebagai nama sebuah Website yang lebih fleksibel untuk menampung karya tulis mahasiswa. Nantinya, Website ini saya harapkan mampu untuk menjadi media belajar dan membiasakan diri untuk teman-teman dalam bidang karya tulis, bisa berubah esai maupun sastra.
Jika ada yang ingin
mendonasikan tulisannya, segera hubungi CP yang tertera. Setelah diterima pihak
pengelola, nantinya tulisan yang masuk akan diseleksi dan jika lolos akan di
terbitkan di website yang kemudian bisa dinikmati oleh mahasiswa. Saya berharap
teman-teman FUAD sangat antusias dalam mendonasikan tulisannya.
Karena tujuan awal
dari menghidupkan kembali Al-Irfan untuk membiasakan diri untuk berkarya dalam
bidang kepenulisan, maka kriteria yang ditetapkan untuk standar muatan tidak
terlalu tinggi. Karena memang kita semua masih berada dalam tahap belajar, dan
belajar itu tidak kenal patah karena salah, ada dalam tahap proses melampaui
kemarin serta batasan-batasan dalam diri kita.
Dengan membaca baik
pengalaman maupun karya tulis ilmuwan, kita menjadi tahu dan mengetahui hal-hal
baru. Dengan berdiskusi kita mampu untuk mengolah kata melatih oral serta
menjalin komunikasi dengan sesama. Dengan menulis secara nyata membiarkan kita
untuk terus hidup dalam sejarah. dikelola oleh pengurus Dema, dimiliki oleh
bersama dan dinikmati bersama pula.
M.Rafhi Setiawan
(Aqidah dan Filsafat Islam)
Ketua DEMA FUAD Periode 2021/2022
0 komentar:
Post a Comment