Manusia adalah makhluk dengan banyak ciri yang dapat
mendeskripsikan, salah satunya melalui budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar
untuk diubah.
Saya tidak ingin membahas budaya manusia berdasarkan suku serta
adat yang beragam jenisnya, tetapi saya akan sedikit mengulik tentang kebiasaan
manusia secara umum yang tanpa kita sadari bahwa saat ini fenomena tersebut
telah menjadi budaya global.
Manusia hari ini hidup di tengah maraknya penggunaan internet
sebagai alat untuk berkomunikasi serta bukti atas kemajuan Sains dan Teknologi.
Meskipun tujuan awal dari kemajuan teknologi untuk mempermudah aktivitas
manusia sehari-hari, tetapi imajinasi "mempermudah" disini
menjadi Boomerang bagi penciptanya.
Diluar prediksi, kemajuan teknologi itu terjadi lebih cepat dari
apa yang direncanakan. Menyapu habis batas kemampuan manusia untuk berbuat,
menjadi gagah sekaligus lemah dengan prestasi yang dicapainya. Mempermudah
aktivitas sekaligus mudah menjebak.
Dari awal jempol berkelana di media sosial, mata ini dipaksa untuk
melihat sebuah informasi yang sama sekali tidak ada gunanya. Ya, seluruh story baik Instastory maupun Whatsapp
Story banjir degan ucapan "selamat hari buku sedunia"
ditambah dengan sedikit Quotes bijak dari konten kreator.
Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemirsa dengan keberadaan informasi tersebut? Ya, hari ini adalah hari buku, dan dikemudian hari adalah hari peringatan yang lain dan akan muncul fenomena yang sama di media Maya. Terlebih untuk saat ini memperingati hari momentual melalui media tergolong sesuatu yang hitz dan didukung juga oleh realitas fisik yang masih pandemi dan kontak fisik dibatasi.
Seakan-akan lingkungan juga memaksa manusia untuk berlarut-larut
dalam dunia Maya, entah alam sudah muak dengan manusia karena hanya jadi
perusak atau alam menyuruh manusia untuk mensyukuri nikmat gadgetpedia.
Fenomena semacam ini pada titik puncaknya hanya akan membawa
kreator pada lajur kontestasi kreativitas saja, serta kehilangan sebuah entitas
dari muatan yang disampaikan. Semakin banyak pamflet ucapan tersebut
bertebaran, maka semakin sulit fikiran manusia untuk menangkap muatan yang
dibawanya. Terlebih jika kreativitas itu beragam, akan lebih memanjakan mata
dan mengundang gaya informasi baru dan berimbas pada muatan yang kehilangan
entitasnya.
Tapi mau bagaimana? Keadaan tersebut telah menjadi rutinitas momentual bagi
kita. Pada awalnya diharapkan untuk memantik ruang kontemplatif tentang kesadaran
literasi tetapi pada akhirnya malah memantik kesadaran kreativitas produksi
design dengan gaya yang memanjakan mata.
"ini lho yang nyata, saingi saja design saya, lupakan muatan
didalamnya karena itu tidak penting, selebihnya ini hanya formalitas agar di
anggap update dan peka terhadap lingkungan".
Keadaan semacam ini sebenarnya sudah sering menjadi pembahasan di
forum-forum dialektika wacana. Jean Baudrillard merupakan salah satu filsuf
yang mampu menelanjangi skema media sosial. "Simulacra and simulation"
menjadi senjata untuk mengkritisi budaya manusia postmodern yang
penuh ketidakpastian.
Simulasi adalah suatu keadaan dimana realitas fisik dimanipulasi
dan dikontruksikan ke dalam pikiran untuk kepentingan konsumerisme atas
produksi suatu industri tertentu (iklan). Karena simulasi, realitas itu
sendiri bangkrut, digantikan oleh duplikasi, imitasi dan simbol-simbol serta
dunia fantasi.
Fenomena tersebut kata Baudrillard menciptakan sesuatu
keadaan Hiper-realitas. Hyperealitas dalam arti mudahnya adalah
sebuah gagasan bahwa gambar di dalam layar kaca lebih terlihat nyata daripada
realitas fisik, mendahulukan ekstasi akan citraan dan permukaan ketimbang nilai
transendental (Moses 2019).
Mekanisme simulasi menurut Baudrillard bahwa realitas telah melebur
menjadi satu dengan tanda, citra model-model reproduksi tidak mungkin lagi
menemukan referensi yang real, membuat pembedaan antara representasi dan
realitas, citra dan kenyataan, tanda dan ide, serta semu dan yang nyata. (Baudrillard,1999
dalam Astutik 2015).
Manusia berlomba-lomba untuk menyediakan informasi dengan
memposting sejenis pamflet dimedia yang dimilikinya. Tanpa sadar,pamflet
tersebut mewakili kejadian asli, karena yang menghampiri pemirsa hanyalah
simulasi dari kemurnian fenomena yang terjadi. Mewakilkan suatu hal dengan yang
lain merupakan keadaan dimana produk imitasi di buat
dan distribusikan kepada khalayak umum.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai pada ruang tanpa batas,
kemudian mata-mata itu dimanjakan dengan pemandangan yang di munculkan dari
genggaman tangan. Entah asli atau nyata, sekilas terlihat sama tanpa celah yang
membatasinya.
Keadaan ini semakin jelas adanya ketika kita bersosial
menggunakan platform media. Tidak perlu jauh-jauh untuk menghampiri
rekan yang entah berapa meter jaraknya untuk sekedar tanya tugas kuliah. Cukup
dengan saling membuat akun di salah satu platform media sosial
untuk saling terkoneksi satu sama lain. Jarak itu dipangkas habis-habisan dengan
tumbal beberapa rupiah untuk membeli jaringan. Manusia terwakili dengan
memasang foto dan nama di akun media sosial.
"Manusia menjadi tiada karena media sosial telah menggantikan
keber-ada-annya. Realitas fisik hanya iming-iming saja, Dunia Maya adalah
tempat dimana eksistensi bertarung dan bertegur sapa"
Realitas yang sedang kita tempati saat ini adalah realitas palsu,
Maya tidak nyata. Manusia termanjakan oleh penampakan informasi, fantasi dan
hidup diantara tanda. Nyata sekaligus palsu karena kehilangan kemurnian asali,
fakta itu terdistorsi dan lenyap dibawah kenyataan simulasi. Manusia akan
dibawa semakin jauh dari kehidupan nyata, jauh dari identitas dan berakhir pada
tertindasnya pikiran mereka.
Sebenarnya kritikan ini datang bukan untuk tekhnologi, karena
dengan jelas bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dihindari dan dibatasi. Kritik
ini lebih menampar manusia yang melupakan realitas fisik dan lebih asik dengan
dunia Maya. Berbela sungkawa melalui media tetapi acuh ketika bertatap muka.
Saya heran, banyak orang menangis karena drama Korea tetapi tau kisah teman
dengan pacarnya yang dramatis. biasa saja, Aneh.
Admin Shopee






