Manusia adalah makhluk dengan banyak ciri yang dapat mendeskripsikan, salah satunya melalui budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar untuk diubah.


Saya tidak ingin membahas budaya manusia berdasarkan suku serta adat yang beragam jenisnya, tetapi saya akan sedikit mengulik tentang kebiasaan manusia secara umum yang tanpa kita sadari bahwa saat ini fenomena tersebut telah menjadi budaya global.


Manusia hari ini hidup di tengah maraknya penggunaan internet sebagai alat untuk berkomunikasi serta bukti atas kemajuan Sains dan Teknologi. Meskipun tujuan awal dari kemajuan teknologi untuk mempermudah aktivitas manusia sehari-hari, tetapi imajinasi "mempermudah" disini menjadi Boomerang bagi penciptanya.


Diluar prediksi, kemajuan teknologi itu terjadi lebih cepat dari apa yang direncanakan. Menyapu habis batas kemampuan manusia untuk berbuat, menjadi gagah sekaligus lemah dengan prestasi yang dicapainya. Mempermudah aktivitas sekaligus mudah menjebak.


Dari awal jempol berkelana di media sosial, mata ini dipaksa untuk melihat sebuah informasi yang sama sekali tidak ada gunanya. Ya, seluruh story baik Instastory maupun Whatsapp Story banjir degan ucapan "selamat hari buku sedunia" ditambah dengan sedikit Quotes bijak dari konten kreator.


Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemirsa dengan keberadaan informasi tersebut? Ya, hari ini adalah hari buku, dan dikemudian hari adalah hari peringatan yang lain dan akan muncul fenomena yang sama di media Maya. Terlebih untuk saat ini memperingati hari momentual melalui media tergolong sesuatu yang hitz dan didukung juga oleh realitas fisik yang masih pandemi dan kontak fisik dibatasi.


Seakan-akan lingkungan juga memaksa manusia untuk berlarut-larut dalam dunia Maya, entah alam sudah muak dengan manusia karena hanya jadi perusak atau alam menyuruh manusia untuk mensyukuri nikmat gadgetpedia.


Fenomena semacam ini pada titik puncaknya hanya akan membawa kreator pada lajur kontestasi kreativitas saja, serta kehilangan sebuah entitas dari muatan yang disampaikan. Semakin banyak pamflet ucapan tersebut bertebaran, maka semakin sulit fikiran manusia untuk menangkap muatan yang dibawanya. Terlebih jika kreativitas itu beragam, akan lebih memanjakan mata dan mengundang gaya informasi baru dan berimbas pada muatan yang kehilangan entitasnya.


Tapi mau bagaimana? Keadaan tersebut telah menjadi rutinitas momentual bagi kita. Pada awalnya diharapkan untuk memantik ruang kontemplatif tentang kesadaran literasi tetapi pada akhirnya malah memantik kesadaran kreativitas produksi design dengan gaya yang memanjakan mata.

"ini lho yang nyata, saingi saja design saya, lupakan muatan didalamnya karena itu tidak penting, selebihnya ini hanya formalitas agar di anggap update dan peka terhadap lingkungan".


Keadaan semacam ini sebenarnya sudah sering menjadi pembahasan di forum-forum dialektika wacana. Jean Baudrillard merupakan salah satu filsuf yang mampu menelanjangi skema media sosial. "Simulacra and simulation" menjadi senjata untuk mengkritisi budaya manusia postmodern yang penuh ketidakpastian.


Simulasi adalah suatu keadaan dimana realitas fisik dimanipulasi dan dikontruksikan ke dalam pikiran untuk kepentingan konsumerisme atas produksi suatu industri tertentu (iklan). Karena simulasi, realitas itu sendiri bangkrut, digantikan oleh duplikasi, imitasi dan simbol-simbol serta dunia fantasi.


Fenomena tersebut kata Baudrillard menciptakan sesuatu keadaan Hiper-realitas. Hyperealitas dalam arti mudahnya adalah sebuah gagasan bahwa gambar di dalam layar kaca lebih terlihat nyata daripada realitas fisik, mendahulukan ekstasi akan citraan dan permukaan ketimbang nilai transendental (Moses 2019).


Mekanisme simulasi menurut Baudrillard bahwa realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda, citra model-model reproduksi tidak mungkin lagi menemukan referensi yang real, membuat pembedaan antara representasi dan realitas, citra dan kenyataan, tanda dan ide, serta semu dan yang nyata. (Baudrillard,1999 dalam Astutik 2015).


Manusia berlomba-lomba untuk menyediakan informasi dengan memposting sejenis pamflet dimedia yang dimilikinya. Tanpa sadar,pamflet tersebut mewakili kejadian asli, karena yang menghampiri pemirsa hanyalah simulasi dari kemurnian fenomena yang terjadi. Mewakilkan suatu hal dengan yang lain merupakan keadaan dimana produk imitasi di buat dan  distribusikan kepada khalayak umum.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai pada ruang tanpa batas, kemudian mata-mata itu dimanjakan dengan pemandangan yang di munculkan dari genggaman tangan. Entah asli atau nyata, sekilas terlihat sama tanpa celah yang membatasinya.


Keadaan ini semakin jelas adanya ketika kita bersosial menggunakan platform media. Tidak perlu jauh-jauh untuk menghampiri rekan yang entah berapa meter jaraknya untuk sekedar tanya tugas kuliah. Cukup dengan saling membuat akun di salah satu platform media sosial untuk saling terkoneksi satu sama lain. Jarak itu dipangkas habis-habisan dengan tumbal beberapa rupiah untuk membeli jaringan. Manusia terwakili dengan memasang foto dan nama di akun media sosial.


"Manusia menjadi tiada karena media sosial telah menggantikan keber-ada-annya. Realitas fisik hanya iming-iming saja, Dunia Maya adalah tempat dimana eksistensi bertarung dan bertegur sapa"


Realitas yang sedang kita tempati saat ini adalah realitas palsu, Maya tidak nyata. Manusia termanjakan oleh penampakan informasi, fantasi dan hidup diantara tanda. Nyata sekaligus palsu karena kehilangan kemurnian asali, fakta itu terdistorsi dan lenyap dibawah kenyataan simulasi. Manusia akan dibawa semakin jauh dari kehidupan nyata, jauh dari identitas dan berakhir pada tertindasnya pikiran mereka.


Sebenarnya kritikan ini datang bukan untuk tekhnologi, karena dengan jelas bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dihindari dan dibatasi. Kritik ini lebih menampar manusia yang melupakan realitas fisik dan lebih asik dengan dunia Maya. Berbela sungkawa melalui media tetapi acuh ketika bertatap muka. Saya heran, banyak orang menangis karena drama Korea tetapi tau kisah teman dengan pacarnya yang dramatis. biasa saja, Aneh.

 

Admin Shopee

 

 

Niccolo Machiavelli merupakan tokoh besar dalam bidang percaturan politik dunia. Ia lahir di kota kecil bernama Florance, Italia pada tahun 1469.


Nic mencoba menuangkan bentuk Sinn atau pemaknaanya terhadap isi kepala  para diktator di zamannya, yang dinilai begitu menuruti, tunduk pada nafsu: menghalalkan beragam cara dalam menggapai kedudukan.


Saking geramnya atas Dehumanisasi para pemuja dunia politik ini, lahirlah surat dan menjadi buku monumental yang sengaja dituliskan khusus untuk sang pangeran: Medici. Namun di balik karya seorang Nicollo dengan tendensi kritik birokrat yang menuai banyak pujian.


Karena berhasil membongkar alam pikir para diktator dengan mangatakan apa yang benar-benar terjadi. Tidak serta merta ia tidak ada penentangnya, di margin lain, prodak orisinil Niccolo juga mendapat kritik lugas dari tokoh-tokoh dunia.


Nah, berangkat dari narasi di atas akhirnya muncullah sinonim untuk pemain kaum politik birokrasi dengan diksi Machiavellis. Sekarang mari kita pergi pada dunia perguruan tinggi atau kampus, penggunaan dikotomi kampus adalah miniatur Negara.


Agaknya sudah menjadi asupan awal bagi mahasiswa/i yang biasanya mereka peroleh ketika baru masuk ke dalam dunia perkuliahan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus).


Dikatakan miniatur, karena pada dasarnya ada kemiripan dari lembaga-lembaga di pemerintahan pada umumnya, mulai pada taraf paling dasar, sampai pada kekuasaan tertinggi bernama presiden. Hanya saja penggunaan term yang digunakan sedikit banyak mengalami perbedaan di sana-sini.


Dan mungkin, oleh karena itu budaya percaturan dunia politik secara tidak langsung merembes dan ikut masuk ke dalam miniatur negara: kampus. Kampus tak ayalnya merupakan tempat pelatihan awal mahasiswa/i untuk meneruskan budaya tikus-tikus ber-jas rapi.


Alias pejabat pemerintahan, dan sudah menjadi rahasia umum: bahwasanya pejabat-pejabat gila kursi, harta, dan wanita ini menggunakan segala cara agar dapat memperoleh apa pun yang mereka incar.


Mereka: mahasiswa/i entah mengapa bukanya menolak kebiri atas kodifikasi dirinya agar meneruskam panji kekuasaan pejabat. Justru menerima dengan senyum manis dan ya, meski secara skala yang akan diperoleh belum setara dengan penghuni istana negara.


Itung-itung sebagai ajang latihan, sebelum terjun ke dunia birokrasi negara asli. Sekarang mari kita jalan-jalan sebentar di hutan bernama birokrasi kampus dalam ranah: mahasiswa/i. Ada yang namanya Unit Kegiatan Mahasiswa, Lembaga Pers Mahasiswa, ORMEK, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan masih banyak lagi.


Dan mungkin mayoritas mahasiswa/i kurang atau bahkan acuh terhadap masalah ini. Yakni, tentang budaya pemurnian ras_asal daerah, atau ideologi yang notabene sama. Yang biasa serta lazim terjadi pada organisasi-organisasi baik intra atau ekstra kampus.


Pertanyaannya praktek seperti marak digunakan agar apa? Jawabanya jelas: agar terus dapat mengendalikan, mengarahkan arah gerak organisasi bersangkutan.


Nah, logikanya seperti ini,  ketika ras atau ideologi sama kensekuensi positif yang didapati. Artinya segala-galanya golonganku tidak ada golongan lain yang mengusik organisasi milikku. Tidak ada ancaman, tidak ada corak pemikiran baru. Semua sama. Layaknya para pemikir tempo dulu: ketika Belanda datang ke Indonesia.


Mereka memposisikan mereka si pemikir pribumi dengan begitu mulia. Mereka di sekolahkan di Belanda dengan beasiswa, ekonomi terjamin. Namun di balik itu semua, ada maksud politis.


Dengan mereka di biayai untuk sekolah di Belanda, efek yang ditimbulkan adalah corak pemikiran yang notabene dulunya berbeda menjadi sama dengan Belanda. Jadi bagaimana mau melawan, la wong sudut pandangnya sama kok. Agaknya cara yang demikian juga dikenakan dalam hutan birokrasi kampus.


Mereka sang pangeran, pertama-tama menyamakan konsepsi mereka dengan pendatang baru, sampai pada tataran benar-benar sama kamuflase secara kompleksitas.


Kemudian, jika dirasa praktek di atas belum mencukupi mereka Machiavellis kampus, tak segan-segan merusak mental pendatang baru, merendahakan pandangan mahasiswa/i lain terhadapnya dan lain sebagainya, sampai apa yang mereka tuju dapat terealisasikan.


Akhir kata, tumbuh subur penerus budaya Machiavellis bangsa. Engkau adalah harapan yang sampai kapan pun akan berideologi sama, jadi kami para pendahulumu dapat tenang sentosa.

 

 

Ahmad Fahrur Rozi

(Sejarah dan Peradaban Islam)

 


Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). Menggelar Lingkar Diskusi FUAD (LDF) secara offline dan live instagram yang bertempat di Kedai Kopi Bilkop, pada Minggu, 11 April 2021.

 

Diskusi yang mengangkat tema "Black Lives Matter: Papua Bukan Objek Rasisme", ini menghadirkan pemantik dari 3 jurusan yang merupakan mahasiswa FUAD yaitu Adi Yulianto dari Sosiologi Agama (SA), Ahmad Fahrur Rozi dari Sejarah Peradaban Islam (SPI) dan Dimas Yuliono dari Aqidah Filsafat Islam (AFI). 

 

Kegiatan dibuka dengan penampilan LSO dari Sastra Jendra dan FUAD Musik. LDF kali ini di moderator oleh Vebrilia Trisnawati dari Psikologi Islam dan dimulai dengan pembukaan bahwa rasisme yang menurut KBBI adalah “suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

 

Dilanjutkan oleh pemantik pertama yaitu Ahmad Fahrur Rozi (Ozi) yang menyampaikan perbudakan di Timur Tengah khususnya Afrika sudah terjadi selama berabad-abad, terutama dengan orang yang berkulit hitam. Sehingga, orang Papua yang mayoritas berkulit hitam seakan-akan menjadi objek rasisme yang ada di Indonesia. 

 

Kemudian Adi Yulianto memaparkan perbedaan antara ras, etnik, dan suku. Adi menyebutkan jika ketiga hal tersebut dibedakan secara sengaja oleh suatu golongan merupakan sikap dari deskriminasi yang secara lebih lanjut menjadi awal dari rasisme. Selama orang percaya bahwa budaya, warna kulit etnis menentukan suatu kapasitas perilaku seseorang, rasisme akan tetap ada. Banyak orang berargumen yang menginginkan kemerdekaan itu bukan dari orang-orang Papua itu sendiri tapi dari provokator asing. Gagasan seperti ini yang merupakan bentuk penyangkalan terhadap kemampuan orang Papua untuk mengekspresikan keinginan mereka. 

 

Kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan 1 sanggahan dan 2 pertanyaan dari beberapa anggota HMJ di masing-masing jurusan. LDF ini berjalan dengan lancar dan sukses. Kegiatan diakhiri oleh moderator yang diiringi dengan penampilan penutupan dari LSO Sasjen dan FUAD Musik.

 

Asri Nur Miftahul Jannah 

(Psikologi Islam)

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22


 



Seperti kata orang

Kebanyakan mendung memang tak selalu tentang hujan

Bisa jadi ia hanya pamer suasana yang sendu dan memberi sejuk

Pada tiap tiap hari yang terasa tak pernah kehilangan mentari

 

Sedari pagi,

Kemarin hingga hari ini rupanya mendung ingin memberi ruang sekali lagi

Pada tiap-tiap kerinduan akan kesejukan

Dan pada tiap-tiap kenangan yang paling indah

Di ingat ketika hari sedang dingin, gelap dan sedikit muram

 

Mendung dan beberapa cara untuk menikmati nya

Menciptakan sederet kehangatan yang warna-warni cara nya

Tapi, aku tak pernah lupa

Pada kehangatan yang tiada dua

Yang lebih hangat dari secangkir teh dan kopi buatanmu,

Ditemani roti cokelat yang siap sedia di samping nya

Yang lebih hangat daripada selimut di kamarmu

Dan … Yang lebih hangat dari pelukan kekasih yang kau rindukan

 

Pelukan ibu dan cerita cerita nya tentang waktu

Masa masa yang tak pernah kau lalui

Tapi, seakan membawamu kesana

Ia menciptakan kehangatan yang paling berbeda

Yang paling membuatmu tenang di dekapnya

Yang akan selalu kau cari disuatu hari ketika beranjak dewasa

Sidoarjo, 11 Maret 2021

 

PENYAIR:

Irma Diah Pratiwi

(Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Bendahara Umum DEMA FUAD 21/22

 



Nizar Tawfiq Qabbani lahir di Damaskus, Suriah pada 21 Maret 1923 dan Meninggal di London, 30 April 1998. Ia berasal dari keluarga pedagang, ayahnya Tawfiq Qabbani adalah pemilik sebuah pabrik coklat.


Selain sebagai penyair, Nizar merintis karier sebagai diplomat di kantor Kemenlu Suriah dan pernah ditugaskan di Lebanon, Mesir, Turki, Spanyol dan London.


Di masa mudanya sebelum menjadi penyair ia menekuni keahliannya di bidang seni kaligrafi, bermusik dan melukis.


Kemudian pada tahun 1939 ia mengikuti sebuah pelayaran ke Roma, saat itulah untuk pertama kalinya ia melahirkan bait-bait puisi setelah menikmati keindahan ombak dan ikan yang berenang.


Seperti yang diyakini para Nazariat (sebutan pecinta nizar), tanggal 15 Agustus 1939 merupakan langkah awal perjalanan berpuisi Nizar Qabbani. The brunette told me (1944) adalah buku komplikasi puisi pertamanya saat kuliah di Universitas Damaskus.


Ketika Nizar terjun dalam dunia penyair. Ia mencoba menyuarakan pendapatnya tentang hak-hak wanita melalui puisinya. Hampir semua tulisannya didominasi oleh Feminisme. Ia mencoba menggambarkan penderitaan perempuan di tengah masyarakat kontemporer.


Saat itu Nizar dinilai paling berani mengemukakan ideologinya kepada masyarakat. Banyak yang mengecam cara advokasi perempuannya lewat bait puisi yang terkenal vulgar.


Bahkan dikhawatirkan mengancam nilai-nilai keislaman, sehingga banyak negara timur terutama Arab Saudi melarang beredarnya buku-buku Nizar. Selain itu, Nizar juga dikenal sebagai penyair yang peka terhadap dunia politik Arab. Sering sekali ia melancarkan kritikan terhadap para pemimpin timur tengah atas kebijakan yang mendeskriminasi.


Dibalik sikapnya yang lantang menyuarakan hak-hak, sebenarnya perjalanan hidupnya banyak mengalami penderitaan dan tekanan. Mulai dari masyarakat yang mencap dia sebagai orang yang kontroversi, hingga penderitaan akibat kematian saudara perempuannya karena bunuh diri, kematian putranya saat kuliah di mesir dan istrinya yang terbunuh dalam perang lebanon tahun 1981.


Di balik hidupnya yang penuh dengan penderitaan, Nizar sangat dihormati atas karya-karyanya. Sampai tiba di hari kematiaannya tahun 1998, Nizar juga mendapat julukan "Raja Penyair Arab" atas karya yang sangat luar biasa.



PENULIS:

Muhammad Faried

(Aqidah dan Filsafat Islam)
Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22


 

Mahasiswa Program Strata-1 (S1) IAIN Tulungagung pada akhir studinya diwajibkan membuat sebuah karya tulis ilmiah yang disebut dengan tugas akhir mahasiswa yakni Skripsi.


Tugas Akhir Mahasiswa adalah karya tulis atau karya seni yang dibuat berdasarkan pedoman penulisan pada masing-masing perguruan tinggi, berdasarkan kaidah ilmu masing-masing  dan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Mahasiswa IAIN Tulungagung khususnya Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah diwajibkan membuat Tugas Akhir membuat  Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi dan syarat  untuk dapat mengkuti wisuda.


Dibimbing oleh dosen pembimbing pada program studi masing-masing. Bertujuan agar memenuhi kualitas yang telah ditetapkan pada setiap program studi masing-masing.


Tugas akhir mahasiswa dari skipsi ke jurnal pada tahun ini dibilang masih sangat baru dan mengapa demikian karena yang diwajibkan membuat Jurnal hanya dari Fakultas Ushuludin Adab dab Dakwah, dalam kesempatan kali ini selaku Dewan Eksekutif  Mahasiswa FUAD mendiskusikan ini sebagai wujud pengembangan intelektualitas para warga FUAD. Dalam acara FORMAD AKBAR (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “EFEKTIVITAS JURNAL SEBAGAI TUGAS AKHIR MAHASISWA FUAD”.


Dalam hal ini DEMA Fakultas mengundang Bpk Dr. Akhmad Rizqon Khamami Lc. M.A, selaku (Dekan Fakultas Ushuludhin Adab dan Dakwah), sebagai Pemateri I. Kemudian Mita Uswatun Hasanah selaku Mahasiswa semester akhir (Ketua Dema FUAD 2019/2020) sebagai pemateri II. Dan Miftahul Rohman S.Ag (Staff IJIR IAIN Tulungagung) sebagai pemateri III.


Hal-hal yang disampaikan oleh Bpk Dekan yakni tentang Problem-problem mahasiswa jurusan lama yang tidak kunjung wisuda yaitu terkendala tugas akhir Skripsi,  karena pembuatan skripsi memerlukan waktu, modal, dan energi yang cukup besar. Saat wabah Covid-19 ini muncul dan menjalar seluruh dunia, dan adanya peraturan baru pada dunia Pendidikan menjadikan ini menarik untuk dijadikan batu loncatan.


Dalam keputusan Dekan dan para Kajur Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah sepakat menggunakan Artikel Jurnal sebagai tugas akhir, karena lebih memudahkan para mahasiswa FUAD dan panjang artikel skripsi menggunakan 70 – 100 halaman, sedangkan Artikel Jurnal hanya 7000-8000 kata, rata-rata jatuhnya 25-30 halaman, sedangkan Skripsi 80-90 Halaman, justru itu akan memudahkan para Mahasiswa untuk menyelesaikan problem skripsi.


Kebanyakan problem Dosen Bimbingan di perguruan tinggi dan juga di IAIN Tulungagung sendiri, para mahasiswa yang mengerjakan skripsi dibimbing oleh Dosen tetapi bimbingannya tidak maksimal hingga menyebabkan mahasiswa telat wisuda.


Agar ada keseriusan dalam bimbingan Dosen maka menggunakan sistem, dan ada trik yakni ketika skripsi dalam bentuk artikel Jurnal dan ada penulis kedua yakni Dosen pembimbing maka secara otomatis nama pembimbing tersebut akan melekat dan otomatis akan membimbing dengan sungguh-sungguh sampai penerbitan.


Kemudian yang disampaikan pemateri ke dua yakni, Miftahul Rohman S.Ag. “Beberapa Skripsi yang saya lihat di perpustakaan IAIN hanya berganti-ganti judul atau hanya ganti metodologi, lebih banyak pengulangan informasi, menurut saya tidak efektif untuk melihat fenomena sosial hari ini, langkah yang diambil ini merupakan hal yang sangat bagus untuk perkembangan intelektual kita hari ini.

“Karena model konvensional bagaimanapun  mempunyai Dosen pembimbing tetapi hanya akan berhenti disitu hal ini berbeda dengan menulis di sebuah jurnal, karna banyak proses Evaluasi, sangat mungkin sekali akan mendapatkan informasi baru untuk menganalisa faktor sosial.”

Kendala-kendala dalam menulis artikel Jurnal ini disampaikan oleh pemateri ketiga yakni Mita Uswatun Hasanakendala yang pertama yakni, “Merangkum dari 10 halaman ke 5 halaman dan menuliskan data-data yang penting dan menarik”. Kemudian yang ke dua, Minimnya referensi Jurnal-Jurnal dalam bahasa Indonesia, karena kebanyakan Jurnal-Jurnal yang diterbitkan rata-rata menggunakan Bahasa Inggris.”


Selanjutnya kendala dalam berkomunikasi, komunikasi kepada birokrasi atau masyarakat umum. “Birokrasi contohnya penelitian di dinas sosial atau di lembaga-lembaga membuat teman-teman kesulitan dengan surat izin dari Fakultas karena akan memakan banyak waktu”.


Selanjutnya dengan masyarakat, Biasanya kita membuat susunan wawancara menggunakan diksi sebagai Akademisi, namun tidak sedikit masyarakat mengerti akan yang kita maksud, maka dari itu paling tidak kita menyamakan frem dulu dengan masyarakat sekitar agar mendapatkan informasi yang maksimal.

 

Fatma Rahmawati

(Tasawuf Psikoterapi)

Devisi Intelektual DEMA FUAD 21/22


Pengantar FORMAD AKBAR bertajuk "Efektivitas Jurnal Sebagai Tugas Akhir Mahasiswa"

Jurnal ilmiah merupakan kumpulan artikel karya ilmiah. Karya ilmiah ini tentunya melalui proses yang panjang. Mulai dari persiapan penelitian hingga pasca penelitian. Lantas, efektifkah artikel ilmiah ini dijadikan tugas akhir Mahasiswa?


Sebelum menuju FORMAD AKBAR yang diselenggarakan DEMA FUAD dengan tajuk "Efektivitas Jurnal Sebagai Tugas Akhir Mahasiswa". Mari kita mengenal dekat terlebih dahulu isi artikel jurnal. Tentu berbeda dengan skripsi. Apalagi ketebalan halamannya.


Bagian-bagian artikel jurnal antara lain: judul, nama peneliti, instansi, email, abstrak, pendahuluan, metodologi, hasil dan pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. Umumnya hanya terdiri dari 15 halaman. Tampaknya memang tersaji sangat ringkas. Namun, perlu penelaahan berulang-ulang demi mendapat reliabilitas dan validitas suatu temuan atau uji hipotesis.


Adakah sisi positif artikel jurnal bila dijadikan tugas akhir Mahasiswa? Secara tidak langsung artikel jurnal ini sangat ramah lingkungan. Hanya membutuhkan beberapa halaman. Mahasiswa juga dituntut untuk terbiasa menyampaikan secara lugas dan tidak bertele-tele.


Masihkah ada kelebihan dari artikel jurnal untuk tugas akhir Mahasiswa? Ikuti FORMAD AKBAR pada hari Rabu, 7 April 2021. Dimulai pukul 18.30 WIB hingga selesai. Diisi oleh 3 pemateri luar biasa. Ingat kuota terbatas!

 

Zulfa Ilma Nuriana

(Psikologi Islam)

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22