MENGENAL NIZAR QABBANI

 



Nizar Tawfiq Qabbani lahir di Damaskus, Suriah pada 21 Maret 1923 dan Meninggal di London, 30 April 1998. Ia berasal dari keluarga pedagang, ayahnya Tawfiq Qabbani adalah pemilik sebuah pabrik coklat.


Selain sebagai penyair, Nizar merintis karier sebagai diplomat di kantor Kemenlu Suriah dan pernah ditugaskan di Lebanon, Mesir, Turki, Spanyol dan London.


Di masa mudanya sebelum menjadi penyair ia menekuni keahliannya di bidang seni kaligrafi, bermusik dan melukis.


Kemudian pada tahun 1939 ia mengikuti sebuah pelayaran ke Roma, saat itulah untuk pertama kalinya ia melahirkan bait-bait puisi setelah menikmati keindahan ombak dan ikan yang berenang.


Seperti yang diyakini para Nazariat (sebutan pecinta nizar), tanggal 15 Agustus 1939 merupakan langkah awal perjalanan berpuisi Nizar Qabbani. The brunette told me (1944) adalah buku komplikasi puisi pertamanya saat kuliah di Universitas Damaskus.


Ketika Nizar terjun dalam dunia penyair. Ia mencoba menyuarakan pendapatnya tentang hak-hak wanita melalui puisinya. Hampir semua tulisannya didominasi oleh Feminisme. Ia mencoba menggambarkan penderitaan perempuan di tengah masyarakat kontemporer.


Saat itu Nizar dinilai paling berani mengemukakan ideologinya kepada masyarakat. Banyak yang mengecam cara advokasi perempuannya lewat bait puisi yang terkenal vulgar.


Bahkan dikhawatirkan mengancam nilai-nilai keislaman, sehingga banyak negara timur terutama Arab Saudi melarang beredarnya buku-buku Nizar. Selain itu, Nizar juga dikenal sebagai penyair yang peka terhadap dunia politik Arab. Sering sekali ia melancarkan kritikan terhadap para pemimpin timur tengah atas kebijakan yang mendeskriminasi.


Dibalik sikapnya yang lantang menyuarakan hak-hak, sebenarnya perjalanan hidupnya banyak mengalami penderitaan dan tekanan. Mulai dari masyarakat yang mencap dia sebagai orang yang kontroversi, hingga penderitaan akibat kematian saudara perempuannya karena bunuh diri, kematian putranya saat kuliah di mesir dan istrinya yang terbunuh dalam perang lebanon tahun 1981.


Di balik hidupnya yang penuh dengan penderitaan, Nizar sangat dihormati atas karya-karyanya. Sampai tiba di hari kematiaannya tahun 1998, Nizar juga mendapat julukan "Raja Penyair Arab" atas karya yang sangat luar biasa.



PENULIS:

Muhammad Faried

(Aqidah dan Filsafat Islam)
Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22

0 komentar:

Post a Comment