Kami memiliki 4 rubrik yakni Tokoh, Sastra, Opini, Berita Terkini.

Tokoh adalah ruang bedah biodata, pemikiran, peran dalam sejarah dan menelisik sosok tersebut. tidak ada batasan tokoh apa yang ingin anda kirimkan yang pasti bukan tokoh fiksi dan fantasi.

Sastra adalah ruang berekspresi yang berisi puisi dan cerpen. Segala ekspresi dipersilahkan tidak ada sensor kata atau larangan-larangan seperti ditempat lain.

Opini adalah ruang bedah pikiran pribadi, segala bentuk pikiran dipersilahkan masuk. Yang pasti tidak ada bentuk intervensi maupun ekspansi berpikir.

Berita Terkini adalah ruang berbagi informasi dari tim Al-Irfan.id dan hiruk pikuh kejadian yang terjadi disekitar anda. Yang terpenting bukan berita HOAX dan berita fiksi.

Ketentuan:

1.    Tulisan belum pernah dipublikasikan dan asli milik sendiri.

2.    Durasi tulisan (tidak termasuk puisi) minimal 700 kata, maksimal tidak terbatas.

3.    Untuk puisi minimal 2 puisi yang akan dimuat oleh tim Al-Irfan.id, maksimal tidak terbatas.

4.    Pengiriman harus disertai biodata singkat (nama,jurusan,asal kampus/lembaga)

5.    Cantumkan juga akun media sosial seperti Instagram, facebook, twitter (jika berkenan)

6.    Artikel bisa dikirim melalui demafuadtulungagung@gmail.com dengan subjek “judul-rubrik yang dibuat”

7.    Tulisan yang kami terima menjadi hak sepenuhnya tim Al-Irfan.id untuk mengedit dan memutuskan bahwa tulisan layak dimuat atau tidak.

8.    Tim kami menerbitkan tulisan selambat-lambatnya 1-2 minggu setelah tulisan kami terima. Jika dalam tempo tersebut belum diterbitkan, silahkan kembali koreksi dan evaluasi diri.

 

Salam Literasi

Tim Redaksi Al-Irfan.id

 


Mari sejenak kita menelisik alam pikiran dan kehidupan seorang penyair asal Palestina yang terkenal dengan sastra perlawanannya. semoga dengan adanya tulisan ini, dapat menyadarkan dan menggugah jiwa Humanisme kita semua tentang konflik tak berkesudahan yang sedang terjadi di Negara Palestina. Pray For Palestina!

Mahmoud Darwish lahir pada 13 Maret 1941 di Al-Birwah. Al-Birwah adalah sebuah nama desa yang terletak 10 KM di timur kota Akko Palestina, sekarang (Israel). Pada tahun 1948 desa ini menjadi salah satu desa yang dibumihanguskan oleh Zionis Israel.

Mahmoud Darwish merupakan anak kedua dari pasangan Salim Darwish dan Hurriyah Darwish, keluarganya merupakan penduduk asli desa Al-Birwah Palestina. Warga desa ini bernasib sama dengan warga desa lainnya, mereka terpaksa keluar dari tanah airnya sendiri akibat adanya serangan tak bermanusiawi para zionis Israel. Darwish dan keluarga memutuskan melarikan diri ke Lebanon.

Pada 1970, Mahmoud Darwish meninggalkan Palestina dan melanjutkan studi ke Rusia di Universitas Moskow. Setelah menyelesaikan studinya ia pindah ke Paris, di Paris ia menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah sastra paling berpengaruh yaitu Al-Karmel. Selama di Paris ia pernah menulis Memory Of Fogetfulness(1987) yang 8 tahun kemudian diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Inggris. Memoar itu mengisahkan situasi kota Beirut di bawah hujan bom Zionis Israel (1982).

Darwish juga pernah menyusun isi deklarasi kemerdekaan palestina pada tahun 1988 dan menjadi anggota komite eksekutif Palestine Liberation Organization (PLO) sampai tahun 1993. Kemudian ia keluar dari PLO sebagai protes atas Kesepakatan Oslo yang lebih memihak Israel.

Darwish sejak awal kiprahnya dalam dunia kesastraan, telah melahirkan puisi-puisi penggugah dan pembangkit bangsa Palestina. Dalam bait-bait puisinya ia secara eksplisit menyebutkan nama Palestina beserta kota-kotanya, mengemukakan peristiwa di Palestina, budaya Palestina serta seruan pejuangan untuk kemerdekaan Palestina.

Sebagai salah satu penyair sastra perlawanan ia menyatakan bahwa Adab Al-Muqawamah “sastra perlawanan” digunakan untuk menolak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Menurutnya alat dalam sastra perlawanan adalah kata-kata dalam puisi harus ditulis dengan seluruh perasaan agar mampu membangkitkan semangat dan daya juang pembacanya.

Mahmoud Darwish merupakan sosok yang membangkitkan rasa revolusioner bangsa Palestina atas penjajahan para zionis Israel. Bahasa puitis yang dituangkan oleh Darwish telah mengilhami solidaritas dan harapan bangsa Palestina. Hal tersebut lah yang menjadi alat memprovokasi perlawanan dan membangkitkan kemarahan untuk memberontak para penjajah.

Seperti yang kita ketahui bahwa peran puisi dalam perjuangan pembebasan itu sendiri telah menjadi suatu hal yang sangat penting, baik sebagai kekuatan untuk memobilisasi respon kolektif terhadap pendudukan yang mendominasi serta sebagai gudang memori dan kesadaran populer.

Rasa humanisme Darwish sendiri muncul atas penindasan-penindasan yang seringkali muncul di depan matanya sendiri, hal  ini lah yang membuat syair-syairnya secara tidak langsung mengarah kepada Zionis Israel. Ada sebuah puisi Mahmoud Darwish yang berjudul I Have Witnessed The Massacre, yang pertama kali dipublikasikan di Beirut 1977 dalam bahasa Arab. Berikut terjemahannya:


Aku menjadi saksi pembantaian

Aku seorang korban dari peta buatan

Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan

Aku melihat koral berterbangan

Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan

Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku

Memasang barikade dan menetapkan jam malam

Hatiku berubah jadi lembah

Sulbiku menjelma batu

Dan bunga-bunga anyelir tumbuh

Dan kembang-kembang anyelir mekar


Puisi itu dengan terang melukiskan metamorfosis jiwa Mahmoud Darwish dari seorang saksi menjadi seorang korban yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang yang melawan. Namun demikian, pada bagian akhir sajak itu dengan simbolisme yang halus, ia memperlihatkan optimismenya bahwa pada suatu ketika harapannya tentang perdamaian yang panjang dan menyeluruh dengan kehidupan itu akan tumbuh dan mekar dibumi Palestina.

Mahmoud Darwish seorang pujangga tangguh, pujangga yang menolak dipatuhkan oleh rezim atau gagasan-gagasan politik picisan. Ia terus bersastra, mengantarkan puisi-puisi dikeramaian omongan dan menentang perjanjian-perjanjian politik yang sering teringkari. Ia sudah menata biografi dengan segala kehilangan, Sekian masih terpegang dan teringat dalam ketuaan. Puisi-puisi masih bersuara, menemui pembaca-pembaca di Arab dan negeri-negeri yang jauh.

Pada 09 Agustus 2008 ia kembali kepangkuan Allah SWT dalam usia 67 tahun dengan tenang. Tiga hari setelah operasi bedah jantung di Memorial Herman Hospital, Houston, Texas, Amerika Serikat. Darwish dimakamkan di samping Istana Budaya Ramallah, disebuah bukit menghadap kota Yerusalem. Mahmoud Abbas presiden Palestina, memberikan pidato terakhir dan mengumumkan suasana berkabung nasional selama tiga hari.

 

Muhammad Faried

(Aqidah dan Filsafat Islam)

LITERASI DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

 


2 Mei 2021 telah dilalui dengan berbagai ucapan Hari Pendidikan  Nasional. Tapi, sadarkah kita dengan praktek industrialisasi di dunia Pendidikan Indonesia? Padahal sejatinya pendidikan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia.

Lagi-lagi dalih tuntutan perkembangan zaman. Jika melihat pada masa Ki Hadjar Dewantara, pendidikan ini supaya para masyarakat Indonesia yang diperbudak oleh penjajah bisa melawan dan tidak terus diperdaya. Relevankah semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani untuk saat ini?

Pelajar, Mahasiswa bahkan Guru seperti robot-robot untuk memenuhi tujuan zaman industri. Belum usai penanaman moral bangsa melalui pendidikan nasional, hadir Era Society 5.0. Sedang di Era Revolusi 4.0 pendidikan masih carut marut. Baik pendidik dan yang dididik, belum sesuai dengan tujuan pendidikan pada UUD RI Tahun 1945.

Seperti halnya budaya kecil yang sudah melekat yakni menyontek. Apabila ini terus melekat pada diri anak hingga ia dewasa, maka tindakan plagiarisme akan semakin meningkat. Rasa tanggungjawab terhadap tindakan pun sedikit. Ini hanya satu tindakan kecil saja.

Coba kita beralih pada masa remaja hingga dewasa. Pendidikan hanya dijadikan ajang mendapat ijazah. Guru pun berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi. Apakah kualitas yang tersertifikasi selalu bagus? Belum tentu!

Ketidaksiapan pendidik dan yang dididik akan menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia di masa depan. Tak perlu deh menunggu masa depan. Lihat saat ini saja, hadirnya digitalisasi pendidikan yang dipercepat oleh pandemi Covid-19 sudah membuat semua kuwalahan.

Kemampuan berteknologi memang semakin meningkat karena tuntuan kondisi. Tapi, stratifikasi sosial semakin tampak. Pendidikan nasional akan semakin mudah diakses dan didapatkan bagi yang cukup dalam sarana prasarana. Bagaimana bagi yang tidak mencukupi? Mereka tercekik! Teriakkan dan jeritannya pun tak lagi bersuara.

Contoh sederhananya saja, apabila di suatu daerah tidak ada sinyal yang bagus tetapi ia memiliki gawai yang bagus. Apakah bisa berguna gawai tersebut? Kalaupun berguna itu harus menyusuri berbagai rintangan.

Lantas bagaimana langkah untuk bisa merealisasikan pendidikan nasional seperti yang diamanatkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945?

1. Pendidik dan yang dididik secara sadar dalam menuntut ilmu agama. Maksudnya, harus sadar dengan apa yang dituturkan dan diperbuat. Serta bertanggungjawab atas dampak yang ditimbulkan. Hal ini dilakukan tidak hanya pendidik dalam bidang agama tetapi semua. Jadi, belajar mengajar tidak sekedar berlangsung karena penerapan kurikulum. Penanaman karakter pun bisa maksimal.

2. Transfer pengetahuan  yang diterapkan harus melihat kondisi yang dididik. Tidak sekedar menyampaikan ilmu tapi tidak merefleksi apa yang diterima pelajar maupun mahasiswa.

3. Mengenali motivasi belajar baik pendidik, pelajar, maupun mahasiswa. Apabila masih ada motivasi belajar yang berdampak negatif, perlu diarahkan pada motivasi yang berdampak positif.

Memang proses ini membutuhkan waktu yang lama tapi dampaknya pun juga lama. Kalau pendidikan nasional hanya terus berdalih tertuntut perkembangan zaman, benar saya yakini bahwa Indonesia akan tinggal nama. Perbaiki kunci dari kehidupan. Jangan sekedar merajut buih di lautan. Analoginya pendidik dan yang dididik saat ini adalah ikan yang dituntut alam untuk terbang.

Pencapaian taraf internasional untuk apa? Jika masih banyak pendidik dan pelajar yang belum tersentuh pendidikan nasional. Kalaupun sudah tersentuh, mereka dicetak untuk bekerja. Dan pada akhirnya pekerjaannya pun tak berdasar moral melainkan pemenuhan nafsu sehingga tidak mempedulikan saudaranya yang tercekik. Sirkulasi masyarakat Indonesia akan terus seperti ini, jika pendidikan nasional hanya menjadi ajang kontestasi, politisasi, dan komoditas.

 

Zulfa Ilma Nuriana

(Psikologi Islam)

Devisi Literasi DEMA FUAD 21/22




Pada tanggal 02 Mei merupakan hari “Pendidikan Nasional”, dimana menjadi momentum untuk memperingati hari pendidikan nasional di Indonesia. Dengan pendidikan, tentunya akan mencerdaskan para generasi-generasi muda penerus bangsa. Namun sayangnya pendidikan di Indonesia semakin hari semakin tidak jelas arusnya kemana dan untuk siapa. Timbul pertanyaan-pertanyaan

Apakah semboyan Ki Hajar Dewantara masih relevan untuk saat ini?

Tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah bagaimana semua pihak-pihak terkait berpartisipasi dalam penyelenggaraannya. Sebuah negara dapat dikatakan berkembang jika dilihat dari sistem dan praktik pendidikan di negara tersebut apakah sudah berjalan sesuai alurnya atau tidak. Yang seharusnya pendidikan menjadi hak bersama tanpa memandang terikat oleh apapun, menjadi ajang kepentingan untuk golongan-golongan tertentu.

Komodifikasi pada pendidikan mengubah nilai pendidikan itu sendiri, yang awalnya adalah nilai guna berubah menjadi nilai tukar. Komodifikasi pendidikan khususnya di Indonesia menarik jika di lihat dari 2 sudut pandang, Historis dan Filosofis. Dari segi historis ada kolonialisme sebagai proyek penyadaran dari barat sebagai tolok ukur utama. 

Dari segi filosofis dilihat dari sudut pandang Paulo Freire seorang aktivis pendidikan yang berpengaruh di dunia, dimana setiap pembelajar selalu dihadapkan dengan sistem yang mapan pelajar dididik sebagai buruh.

Meskipun kerja itu penting, apakah pendidikan sesederhana itu sehingga hanya menghasilkan buruh-buruh baru?

Bahkan Yang belum pasti gaji dan pekerjaannya sesuai dengan apa yang dilakukan.Pengaruh kolonialisme yang memberikan pemahaman sekolah untuk bekerja hanya akan membuat manusia mencukupi kebutuhan perut dan mengesampingkan kebutuhan intelektual. 

Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal untuk menyangsikan segala sesuatu adalah kodrat, dan kemampuan untuk mengetahui value sebuah fenomena akan tereduksi oleh sistem pendidikan yang orientasinya adalah mencetak buruh..

Bicara soal ilmu pengetahuan yang hanya membicarakan untung dan rugi, akan berakhir pada pemahaman praktis dari setiap kepala.  Manusia akan saling serang, hilang adab, minimnya toleransi serta jauh dengan istilah merdeka. Dan tentunya ini sudah jauh keluar dari tujuan pendidikan yang akan mencerdaskan para generasi muda penerus bangsa.

Pada momentum yang baik inilah kami selaku Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah mengaadakan forum perdiskusian untuk memepringati hari  pendidikan nasional dan juga untuk mengasah pengetahuan intelektual mahasiswa FUAD serta menjadikan bentuk kepedulian kami selaku mahasiswa terhadap pendidikan yang ada di Indonesia.

Maka dari sini kami melaksanakan acara Forum Mahasiswa FUAD Akbar dengan tema: “Stratifikasi Sosial dan Darah Juang Kurrikulum di Indonesia”. Yang mana diskusi kali ini dipandu oleh moderator dari koordinator devisi intelektual Dewan Eksekutif Mahasiswa FUAD yakni saudari Ika Tirta Sakilah dan diisi oleh dua pemateri handal dalam bidang ini. 

Pemateri pertama adalah Dr. H. M. Dimyati Huda beliau adalah seorang pemerhati mistik jawa dan ketua LP2M di Universitas Nahdhatul Ulama Blitar. Sebagai akademisi yang memiliki berbagai pengalaman dalam dunia pendidikan tentunya beliau menjadi pemateri yang sangat cocok dalam pembahasan pada diskusi kami.

Dalam materi yang disampaikan beliau, fokus yang beliau ajarkan pada pola pendidikan di Indonesia adalah bagaimana mahasiwa selaku akademisi tidak hanya harus menjadi cerdas dengan ilmu pengetahuan tetapi juga harus peka terhadap permasalan masyarakat sekitar. 

Selain itu beliau juga menceritakan tentang sejarah pendidikan secara filosofis yang terjadi di Indonesia yang mana salah satu pesan beliau adalah “Jangan merasa rendah diri jika tidak memiliki harta, namun jadilah rendah diri ketika tidak memiliki pengetahuan” yang mana beiau menegaskan bahwa kekayaan sesungguhnya ada pada hati dan ikiran bukan pada kekayaan belaka.

Pemateri yang kedua adalah Bapak Muhammad Safi’I beliau merupakan alumni IAIN Tulungagung Fakultas Tarbiyah, yang mana sekarang beliau merupakan seorang guru, disini tentunya sebagai seorang pendidik beliau memahami pola pendidikan dan kurikulum yang ada di Indonesia. 

Dalam penjelasannya beliau menerangkan berbagai kurikulum yang sudah ada di Indonesia salah satu pesan beliau adalah “Perubahan kurikulum bagaikan usaha kita daalam mengikuti perkembangan yang ada, yang mana kita hidup bagaikan menaiki treatmil, dimana saat menaiki treatmil kita harus berupaya terus berlari mengikuti perkembangannya”.

Selain dua pemateri handal yang menyajikan materi dengan baik serta menimbulkan antusias para peserta acara ini juga di buka oleh guest star dari lembaga semi otonom yang ada di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, yakni Grub Sholawat Fajrul Ummah.

 Acara ini di hadiri oleh 13 ketua lembaga yang ada di FUAD dan kurang lebih 50 mahasiswa FUAD.  Acara ini dilaksanakan di balai desa Tunggul Sari di mulai pukul 15.00 WIB dan diakhiri dengan buka bersama dengan semua peserta yang hadir.

 

Tirta Ika Sakilah 

(Psikologi Islam)

C.O Devisi Intelektual DEMA FUAD 21/22