MAHMOUD DARWISH: PENYAIR-NABI PERLAWANAN PALESTINA

 


Mari sejenak kita menelisik alam pikiran dan kehidupan seorang penyair asal Palestina yang terkenal dengan sastra perlawanannya. semoga dengan adanya tulisan ini, dapat menyadarkan dan menggugah jiwa Humanisme kita semua tentang konflik tak berkesudahan yang sedang terjadi di Negara Palestina. Pray For Palestina!

Mahmoud Darwish lahir pada 13 Maret 1941 di Al-Birwah. Al-Birwah adalah sebuah nama desa yang terletak 10 KM di timur kota Akko Palestina, sekarang (Israel). Pada tahun 1948 desa ini menjadi salah satu desa yang dibumihanguskan oleh Zionis Israel.

Mahmoud Darwish merupakan anak kedua dari pasangan Salim Darwish dan Hurriyah Darwish, keluarganya merupakan penduduk asli desa Al-Birwah Palestina. Warga desa ini bernasib sama dengan warga desa lainnya, mereka terpaksa keluar dari tanah airnya sendiri akibat adanya serangan tak bermanusiawi para zionis Israel. Darwish dan keluarga memutuskan melarikan diri ke Lebanon.

Pada 1970, Mahmoud Darwish meninggalkan Palestina dan melanjutkan studi ke Rusia di Universitas Moskow. Setelah menyelesaikan studinya ia pindah ke Paris, di Paris ia menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah sastra paling berpengaruh yaitu Al-Karmel. Selama di Paris ia pernah menulis Memory Of Fogetfulness(1987) yang 8 tahun kemudian diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Inggris. Memoar itu mengisahkan situasi kota Beirut di bawah hujan bom Zionis Israel (1982).

Darwish juga pernah menyusun isi deklarasi kemerdekaan palestina pada tahun 1988 dan menjadi anggota komite eksekutif Palestine Liberation Organization (PLO) sampai tahun 1993. Kemudian ia keluar dari PLO sebagai protes atas Kesepakatan Oslo yang lebih memihak Israel.

Darwish sejak awal kiprahnya dalam dunia kesastraan, telah melahirkan puisi-puisi penggugah dan pembangkit bangsa Palestina. Dalam bait-bait puisinya ia secara eksplisit menyebutkan nama Palestina beserta kota-kotanya, mengemukakan peristiwa di Palestina, budaya Palestina serta seruan pejuangan untuk kemerdekaan Palestina.

Sebagai salah satu penyair sastra perlawanan ia menyatakan bahwa Adab Al-Muqawamah “sastra perlawanan” digunakan untuk menolak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Menurutnya alat dalam sastra perlawanan adalah kata-kata dalam puisi harus ditulis dengan seluruh perasaan agar mampu membangkitkan semangat dan daya juang pembacanya.

Mahmoud Darwish merupakan sosok yang membangkitkan rasa revolusioner bangsa Palestina atas penjajahan para zionis Israel. Bahasa puitis yang dituangkan oleh Darwish telah mengilhami solidaritas dan harapan bangsa Palestina. Hal tersebut lah yang menjadi alat memprovokasi perlawanan dan membangkitkan kemarahan untuk memberontak para penjajah.

Seperti yang kita ketahui bahwa peran puisi dalam perjuangan pembebasan itu sendiri telah menjadi suatu hal yang sangat penting, baik sebagai kekuatan untuk memobilisasi respon kolektif terhadap pendudukan yang mendominasi serta sebagai gudang memori dan kesadaran populer.

Rasa humanisme Darwish sendiri muncul atas penindasan-penindasan yang seringkali muncul di depan matanya sendiri, hal  ini lah yang membuat syair-syairnya secara tidak langsung mengarah kepada Zionis Israel. Ada sebuah puisi Mahmoud Darwish yang berjudul I Have Witnessed The Massacre, yang pertama kali dipublikasikan di Beirut 1977 dalam bahasa Arab. Berikut terjemahannya:


Aku menjadi saksi pembantaian

Aku seorang korban dari peta buatan

Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan

Aku melihat koral berterbangan

Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan

Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku

Memasang barikade dan menetapkan jam malam

Hatiku berubah jadi lembah

Sulbiku menjelma batu

Dan bunga-bunga anyelir tumbuh

Dan kembang-kembang anyelir mekar


Puisi itu dengan terang melukiskan metamorfosis jiwa Mahmoud Darwish dari seorang saksi menjadi seorang korban yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang yang melawan. Namun demikian, pada bagian akhir sajak itu dengan simbolisme yang halus, ia memperlihatkan optimismenya bahwa pada suatu ketika harapannya tentang perdamaian yang panjang dan menyeluruh dengan kehidupan itu akan tumbuh dan mekar dibumi Palestina.

Mahmoud Darwish seorang pujangga tangguh, pujangga yang menolak dipatuhkan oleh rezim atau gagasan-gagasan politik picisan. Ia terus bersastra, mengantarkan puisi-puisi dikeramaian omongan dan menentang perjanjian-perjanjian politik yang sering teringkari. Ia sudah menata biografi dengan segala kehilangan, Sekian masih terpegang dan teringat dalam ketuaan. Puisi-puisi masih bersuara, menemui pembaca-pembaca di Arab dan negeri-negeri yang jauh.

Pada 09 Agustus 2008 ia kembali kepangkuan Allah SWT dalam usia 67 tahun dengan tenang. Tiga hari setelah operasi bedah jantung di Memorial Herman Hospital, Houston, Texas, Amerika Serikat. Darwish dimakamkan di samping Istana Budaya Ramallah, disebuah bukit menghadap kota Yerusalem. Mahmoud Abbas presiden Palestina, memberikan pidato terakhir dan mengumumkan suasana berkabung nasional selama tiga hari.

 

Muhammad Faried

(Aqidah dan Filsafat Islam)

LITERASI DEMA FUAD 21/22

Desain Cover: Zulfa Ilma Nuriana

0 komentar:

Post a Comment