Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung memiliki
satu fakultas yang identik dengan Trilogi Profetis, Humanis, dan Analitis yakni
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah.
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) secara resmi dibuka pada tahun
1999 dengan nama awal Jurusan Ushuluddin.
Awal dibukanya fakultas ini hanya memiliki satu program studi yaitu Tafsir Hadist yang saat ini menjadi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT).
Lalu pada tahun 2010 dengan dikeluarkannya surat
keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. Dj.I/614/2009 tentang Izin
Pembukaan Program Studi Strata Satu (S.1) pada Perguruan Tinggi Agama Islam
Tahun 2009 fakultas ini membuka dua jurusan baru yaitu Filsafat Agama yang saat ini menjadi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) dan Tasawuf Psikoterapi (TP).
Setelah memiliki tiga jurusan aktif, pada tahun 2015
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah melebarkan sayapnya dengan menambah tiga program
studi baru yakni Bahasa dan Sastra Arab
(BSA), Komunikasi dan Penyiaran Islam
(KPI) dan Bimbingan Konseling Islam
(BKI).
Pembukaan program studi baru ini berdasarkan Surat
Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 1270 Tahun 2015 Tentang Izin
Penyelenggaraan Program Studi Pada Program Sarjana Institut Agama Islam Negeri
Tulungagung Tahun 2015, yang ditandatangani pada tanggal 2 Maret 2015.
Tak lama setelah itu pada tahun 2017 berdasarkan
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1270 Tahun 2017 Tentang Izin
Penyelenggaraan Program Studi Pada Program Sarjana Institut Agama Islam Negeri
Tulungagung, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah kembali membuka program baru
yang tak tanggung-tanggung karena menelurkan enam jurusan sekaligus dalam satu
waktu.
Program barunya yaitu Sejarah
Peradaban Islam (SPI), Psikologi
Islam (PI), Sosiologi Agama (SA),
Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam
(IPII), Manajemen Dakwah (MD), Ilmu Hadis (IH) yang sekaligus
menjadikan fakultas ini memiliki 12 program studi hingga saat ini.
Profetik, humanis, dan analitis yang menjadi ciri khasnya
FUAD saat ini benar-benar menjadi jiwa para Mahasiswa. Istilah profetis sendiri
di Indonesia pertama kali muncul diperkenalkan oleh seorang Begawan dan
Cendekiawan Muslim yang bernama Kuntowijoyo melalui konsep pentingnya perihal
ilmu sosial transformatif yang lambat laun bergeser istilah menjadi ilmu sosial
profetik (Kuntowijoyo, 1991). Ia mendalami perihal sosial tidak semata-mata
berdasar realita namun juga kekuatan moral dan jiwa.
FUAD dalam penempatan visi paradigma profetis ini
mengharapkan agar mahasiswa FUAD mampu mengimplementasikannya dalam kesadaran,
perilaku dan ibadah sosial yang dilaksanakannya sejak menjadi mahasiswa dan
kelak keluar menuju dunia kenyataan.
Seorang manusia yang berani tampil menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, keadilan, kebenaran, tauhid dan perdamaian
sosial dalam segala aspek kehidupan materil maupun rohaninya.
Selain profetis, FUAD juga menjadikan corak berpikir
Analitis sebagai cara pandang. Analitis ini sebuah cara pandang yang lebih
dalam terhadap sesuatu hal. Kemampuan menganalisis yang tinggi. Hal ini akan
mempermudah dalam mengupas tuntas segala hal.
Tak hanya itu, tajamnya berpikir seseorang terhadap suatu hal akan mengefisiensikan waktu yang ada. Sedangkan, Humanisme merupakan pemikiran filsafat yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria dalam segala hal.
Jaringan mahasiswa FUAD!
JAMFUD!!!
Devisi Literasi DEMA
FUAD
Periode 2021/2022
0 komentar:
Post a Comment