FORMAD AKBAR #1 “EFEKTIVITAS JURNAL SEBAGAI TUGAS AKHIR MAHASISWA FUAD”


 

Mahasiswa Program Strata-1 (S1) IAIN Tulungagung pada akhir studinya diwajibkan membuat sebuah karya tulis ilmiah yang disebut dengan tugas akhir mahasiswa yakni Skripsi.


Tugas Akhir Mahasiswa adalah karya tulis atau karya seni yang dibuat berdasarkan pedoman penulisan pada masing-masing perguruan tinggi, berdasarkan kaidah ilmu masing-masing  dan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Mahasiswa IAIN Tulungagung khususnya Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah diwajibkan membuat Tugas Akhir membuat  Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi dan syarat  untuk dapat mengkuti wisuda.


Dibimbing oleh dosen pembimbing pada program studi masing-masing. Bertujuan agar memenuhi kualitas yang telah ditetapkan pada setiap program studi masing-masing.


Tugas akhir mahasiswa dari skipsi ke jurnal pada tahun ini dibilang masih sangat baru dan mengapa demikian karena yang diwajibkan membuat Jurnal hanya dari Fakultas Ushuludin Adab dab Dakwah, dalam kesempatan kali ini selaku Dewan Eksekutif  Mahasiswa FUAD mendiskusikan ini sebagai wujud pengembangan intelektualitas para warga FUAD. Dalam acara FORMAD AKBAR (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “EFEKTIVITAS JURNAL SEBAGAI TUGAS AKHIR MAHASISWA FUAD”.


Dalam hal ini DEMA Fakultas mengundang Bpk Dr. Akhmad Rizqon Khamami Lc. M.A, selaku (Dekan Fakultas Ushuludhin Adab dan Dakwah), sebagai Pemateri I. Kemudian Mita Uswatun Hasanah selaku Mahasiswa semester akhir (Ketua Dema FUAD 2019/2020) sebagai pemateri II. Dan Miftahul Rohman S.Ag (Staff IJIR IAIN Tulungagung) sebagai pemateri III.


Hal-hal yang disampaikan oleh Bpk Dekan yakni tentang Problem-problem mahasiswa jurusan lama yang tidak kunjung wisuda yaitu terkendala tugas akhir Skripsi,  karena pembuatan skripsi memerlukan waktu, modal, dan energi yang cukup besar. Saat wabah Covid-19 ini muncul dan menjalar seluruh dunia, dan adanya peraturan baru pada dunia Pendidikan menjadikan ini menarik untuk dijadikan batu loncatan.


Dalam keputusan Dekan dan para Kajur Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah sepakat menggunakan Artikel Jurnal sebagai tugas akhir, karena lebih memudahkan para mahasiswa FUAD dan panjang artikel skripsi menggunakan 70 – 100 halaman, sedangkan Artikel Jurnal hanya 7000-8000 kata, rata-rata jatuhnya 25-30 halaman, sedangkan Skripsi 80-90 Halaman, justru itu akan memudahkan para Mahasiswa untuk menyelesaikan problem skripsi.


Kebanyakan problem Dosen Bimbingan di perguruan tinggi dan juga di IAIN Tulungagung sendiri, para mahasiswa yang mengerjakan skripsi dibimbing oleh Dosen tetapi bimbingannya tidak maksimal hingga menyebabkan mahasiswa telat wisuda.


Agar ada keseriusan dalam bimbingan Dosen maka menggunakan sistem, dan ada trik yakni ketika skripsi dalam bentuk artikel Jurnal dan ada penulis kedua yakni Dosen pembimbing maka secara otomatis nama pembimbing tersebut akan melekat dan otomatis akan membimbing dengan sungguh-sungguh sampai penerbitan.


Kemudian yang disampaikan pemateri ke dua yakni, Miftahul Rohman S.Ag. “Beberapa Skripsi yang saya lihat di perpustakaan IAIN hanya berganti-ganti judul atau hanya ganti metodologi, lebih banyak pengulangan informasi, menurut saya tidak efektif untuk melihat fenomena sosial hari ini, langkah yang diambil ini merupakan hal yang sangat bagus untuk perkembangan intelektual kita hari ini.

“Karena model konvensional bagaimanapun  mempunyai Dosen pembimbing tetapi hanya akan berhenti disitu hal ini berbeda dengan menulis di sebuah jurnal, karna banyak proses Evaluasi, sangat mungkin sekali akan mendapatkan informasi baru untuk menganalisa faktor sosial.”

Kendala-kendala dalam menulis artikel Jurnal ini disampaikan oleh pemateri ketiga yakni Mita Uswatun Hasanakendala yang pertama yakni, “Merangkum dari 10 halaman ke 5 halaman dan menuliskan data-data yang penting dan menarik”. Kemudian yang ke dua, Minimnya referensi Jurnal-Jurnal dalam bahasa Indonesia, karena kebanyakan Jurnal-Jurnal yang diterbitkan rata-rata menggunakan Bahasa Inggris.”


Selanjutnya kendala dalam berkomunikasi, komunikasi kepada birokrasi atau masyarakat umum. “Birokrasi contohnya penelitian di dinas sosial atau di lembaga-lembaga membuat teman-teman kesulitan dengan surat izin dari Fakultas karena akan memakan banyak waktu”.


Selanjutnya dengan masyarakat, Biasanya kita membuat susunan wawancara menggunakan diksi sebagai Akademisi, namun tidak sedikit masyarakat mengerti akan yang kita maksud, maka dari itu paling tidak kita menyamakan frem dulu dengan masyarakat sekitar agar mendapatkan informasi yang maksimal.

 

Fatma Rahmawati

(Tasawuf Psikoterapi)

Devisi Intelektual DEMA FUAD 21/22

0 komentar:

Post a Comment