MACHIAVELLIS KAMPUS

 

 

Niccolo Machiavelli merupakan tokoh besar dalam bidang percaturan politik dunia. Ia lahir di kota kecil bernama Florance, Italia pada tahun 1469.


Nic mencoba menuangkan bentuk Sinn atau pemaknaanya terhadap isi kepala  para diktator di zamannya, yang dinilai begitu menuruti, tunduk pada nafsu: menghalalkan beragam cara dalam menggapai kedudukan.


Saking geramnya atas Dehumanisasi para pemuja dunia politik ini, lahirlah surat dan menjadi buku monumental yang sengaja dituliskan khusus untuk sang pangeran: Medici. Namun di balik karya seorang Nicollo dengan tendensi kritik birokrat yang menuai banyak pujian.


Karena berhasil membongkar alam pikir para diktator dengan mangatakan apa yang benar-benar terjadi. Tidak serta merta ia tidak ada penentangnya, di margin lain, prodak orisinil Niccolo juga mendapat kritik lugas dari tokoh-tokoh dunia.


Nah, berangkat dari narasi di atas akhirnya muncullah sinonim untuk pemain kaum politik birokrasi dengan diksi Machiavellis. Sekarang mari kita pergi pada dunia perguruan tinggi atau kampus, penggunaan dikotomi kampus adalah miniatur Negara.


Agaknya sudah menjadi asupan awal bagi mahasiswa/i yang biasanya mereka peroleh ketika baru masuk ke dalam dunia perkuliahan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus).


Dikatakan miniatur, karena pada dasarnya ada kemiripan dari lembaga-lembaga di pemerintahan pada umumnya, mulai pada taraf paling dasar, sampai pada kekuasaan tertinggi bernama presiden. Hanya saja penggunaan term yang digunakan sedikit banyak mengalami perbedaan di sana-sini.


Dan mungkin, oleh karena itu budaya percaturan dunia politik secara tidak langsung merembes dan ikut masuk ke dalam miniatur negara: kampus. Kampus tak ayalnya merupakan tempat pelatihan awal mahasiswa/i untuk meneruskan budaya tikus-tikus ber-jas rapi.


Alias pejabat pemerintahan, dan sudah menjadi rahasia umum: bahwasanya pejabat-pejabat gila kursi, harta, dan wanita ini menggunakan segala cara agar dapat memperoleh apa pun yang mereka incar.


Mereka: mahasiswa/i entah mengapa bukanya menolak kebiri atas kodifikasi dirinya agar meneruskam panji kekuasaan pejabat. Justru menerima dengan senyum manis dan ya, meski secara skala yang akan diperoleh belum setara dengan penghuni istana negara.


Itung-itung sebagai ajang latihan, sebelum terjun ke dunia birokrasi negara asli. Sekarang mari kita jalan-jalan sebentar di hutan bernama birokrasi kampus dalam ranah: mahasiswa/i. Ada yang namanya Unit Kegiatan Mahasiswa, Lembaga Pers Mahasiswa, ORMEK, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan masih banyak lagi.


Dan mungkin mayoritas mahasiswa/i kurang atau bahkan acuh terhadap masalah ini. Yakni, tentang budaya pemurnian ras_asal daerah, atau ideologi yang notabene sama. Yang biasa serta lazim terjadi pada organisasi-organisasi baik intra atau ekstra kampus.


Pertanyaannya praktek seperti marak digunakan agar apa? Jawabanya jelas: agar terus dapat mengendalikan, mengarahkan arah gerak organisasi bersangkutan.


Nah, logikanya seperti ini,  ketika ras atau ideologi sama kensekuensi positif yang didapati. Artinya segala-galanya golonganku tidak ada golongan lain yang mengusik organisasi milikku. Tidak ada ancaman, tidak ada corak pemikiran baru. Semua sama. Layaknya para pemikir tempo dulu: ketika Belanda datang ke Indonesia.


Mereka memposisikan mereka si pemikir pribumi dengan begitu mulia. Mereka di sekolahkan di Belanda dengan beasiswa, ekonomi terjamin. Namun di balik itu semua, ada maksud politis.


Dengan mereka di biayai untuk sekolah di Belanda, efek yang ditimbulkan adalah corak pemikiran yang notabene dulunya berbeda menjadi sama dengan Belanda. Jadi bagaimana mau melawan, la wong sudut pandangnya sama kok. Agaknya cara yang demikian juga dikenakan dalam hutan birokrasi kampus.


Mereka sang pangeran, pertama-tama menyamakan konsepsi mereka dengan pendatang baru, sampai pada tataran benar-benar sama kamuflase secara kompleksitas.


Kemudian, jika dirasa praktek di atas belum mencukupi mereka Machiavellis kampus, tak segan-segan merusak mental pendatang baru, merendahakan pandangan mahasiswa/i lain terhadapnya dan lain sebagainya, sampai apa yang mereka tuju dapat terealisasikan.


Akhir kata, tumbuh subur penerus budaya Machiavellis bangsa. Engkau adalah harapan yang sampai kapan pun akan berideologi sama, jadi kami para pendahulumu dapat tenang sentosa.

 

 

Ahmad Fahrur Rozi

(Sejarah dan Peradaban Islam)

0 komentar:

Post a Comment