FORMAD AKBAR #2 “STRATIFIKASI SOSIAL & DARAH JUANG KURIKULUM DI INDONESIA”




Pada tanggal 02 Mei merupakan hari “Pendidikan Nasional”, dimana menjadi momentum untuk memperingati hari pendidikan nasional di Indonesia. Dengan pendidikan, tentunya akan mencerdaskan para generasi-generasi muda penerus bangsa. Namun sayangnya pendidikan di Indonesia semakin hari semakin tidak jelas arusnya kemana dan untuk siapa. Timbul pertanyaan-pertanyaan

Apakah semboyan Ki Hajar Dewantara masih relevan untuk saat ini?

Tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah bagaimana semua pihak-pihak terkait berpartisipasi dalam penyelenggaraannya. Sebuah negara dapat dikatakan berkembang jika dilihat dari sistem dan praktik pendidikan di negara tersebut apakah sudah berjalan sesuai alurnya atau tidak. Yang seharusnya pendidikan menjadi hak bersama tanpa memandang terikat oleh apapun, menjadi ajang kepentingan untuk golongan-golongan tertentu.

Komodifikasi pada pendidikan mengubah nilai pendidikan itu sendiri, yang awalnya adalah nilai guna berubah menjadi nilai tukar. Komodifikasi pendidikan khususnya di Indonesia menarik jika di lihat dari 2 sudut pandang, Historis dan Filosofis. Dari segi historis ada kolonialisme sebagai proyek penyadaran dari barat sebagai tolok ukur utama. 

Dari segi filosofis dilihat dari sudut pandang Paulo Freire seorang aktivis pendidikan yang berpengaruh di dunia, dimana setiap pembelajar selalu dihadapkan dengan sistem yang mapan pelajar dididik sebagai buruh.

Meskipun kerja itu penting, apakah pendidikan sesederhana itu sehingga hanya menghasilkan buruh-buruh baru?

Bahkan Yang belum pasti gaji dan pekerjaannya sesuai dengan apa yang dilakukan.Pengaruh kolonialisme yang memberikan pemahaman sekolah untuk bekerja hanya akan membuat manusia mencukupi kebutuhan perut dan mengesampingkan kebutuhan intelektual. 

Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal untuk menyangsikan segala sesuatu adalah kodrat, dan kemampuan untuk mengetahui value sebuah fenomena akan tereduksi oleh sistem pendidikan yang orientasinya adalah mencetak buruh..

Bicara soal ilmu pengetahuan yang hanya membicarakan untung dan rugi, akan berakhir pada pemahaman praktis dari setiap kepala.  Manusia akan saling serang, hilang adab, minimnya toleransi serta jauh dengan istilah merdeka. Dan tentunya ini sudah jauh keluar dari tujuan pendidikan yang akan mencerdaskan para generasi muda penerus bangsa.

Pada momentum yang baik inilah kami selaku Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah mengaadakan forum perdiskusian untuk memepringati hari  pendidikan nasional dan juga untuk mengasah pengetahuan intelektual mahasiswa FUAD serta menjadikan bentuk kepedulian kami selaku mahasiswa terhadap pendidikan yang ada di Indonesia.

Maka dari sini kami melaksanakan acara Forum Mahasiswa FUAD Akbar dengan tema: “Stratifikasi Sosial dan Darah Juang Kurrikulum di Indonesia”. Yang mana diskusi kali ini dipandu oleh moderator dari koordinator devisi intelektual Dewan Eksekutif Mahasiswa FUAD yakni saudari Ika Tirta Sakilah dan diisi oleh dua pemateri handal dalam bidang ini. 

Pemateri pertama adalah Dr. H. M. Dimyati Huda beliau adalah seorang pemerhati mistik jawa dan ketua LP2M di Universitas Nahdhatul Ulama Blitar. Sebagai akademisi yang memiliki berbagai pengalaman dalam dunia pendidikan tentunya beliau menjadi pemateri yang sangat cocok dalam pembahasan pada diskusi kami.

Dalam materi yang disampaikan beliau, fokus yang beliau ajarkan pada pola pendidikan di Indonesia adalah bagaimana mahasiwa selaku akademisi tidak hanya harus menjadi cerdas dengan ilmu pengetahuan tetapi juga harus peka terhadap permasalan masyarakat sekitar. 

Selain itu beliau juga menceritakan tentang sejarah pendidikan secara filosofis yang terjadi di Indonesia yang mana salah satu pesan beliau adalah “Jangan merasa rendah diri jika tidak memiliki harta, namun jadilah rendah diri ketika tidak memiliki pengetahuan” yang mana beiau menegaskan bahwa kekayaan sesungguhnya ada pada hati dan ikiran bukan pada kekayaan belaka.

Pemateri yang kedua adalah Bapak Muhammad Safi’I beliau merupakan alumni IAIN Tulungagung Fakultas Tarbiyah, yang mana sekarang beliau merupakan seorang guru, disini tentunya sebagai seorang pendidik beliau memahami pola pendidikan dan kurikulum yang ada di Indonesia. 

Dalam penjelasannya beliau menerangkan berbagai kurikulum yang sudah ada di Indonesia salah satu pesan beliau adalah “Perubahan kurikulum bagaikan usaha kita daalam mengikuti perkembangan yang ada, yang mana kita hidup bagaikan menaiki treatmil, dimana saat menaiki treatmil kita harus berupaya terus berlari mengikuti perkembangannya”.

Selain dua pemateri handal yang menyajikan materi dengan baik serta menimbulkan antusias para peserta acara ini juga di buka oleh guest star dari lembaga semi otonom yang ada di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, yakni Grub Sholawat Fajrul Ummah.

 Acara ini di hadiri oleh 13 ketua lembaga yang ada di FUAD dan kurang lebih 50 mahasiswa FUAD.  Acara ini dilaksanakan di balai desa Tunggul Sari di mulai pukul 15.00 WIB dan diakhiri dengan buka bersama dengan semua peserta yang hadir.

 

Tirta Ika Sakilah 

(Psikologi Islam)

C.O Devisi Intelektual DEMA FUAD 21/22

0 komentar:

Post a Comment